HALALKAH CANTIKMU?

kosmetik halal

Sumber: mizhasbeautydiary.blogspot.com

Di belahan dunia manapun, wanita selalu ingin tampil cantik. Karena itulah, keturunan hawa tak bisa dilepaskan dari kosmetika. Ya, wanita-saya dan Anda- telah begitu terbiasa menghias diri dengan kosmetik.

Akan tetapi, tahukah Anda? 60% dari produk kosmetik –terutama produk perawatan kulit- diserap oleh kulit dan masuk ke pembuluh darah. Akibatnya, zat-zat yang terkandung dalam produk tersebut akan mengalir dan diserap oleh tubuh; seperti makanan. Maka, layaknya makanan, penting bagi kita-terutama wanita muslimah- untuk memperhatikan keamanan dan kehalalannya. (Walaupun ada juga produk yang hanya melapisi bagian luar kulit, perlakuannya tetap sama. Logikanya, sudikah dirimu jika lemak babi atau bahan berbahaya seperti mercuri dioleskan pada wajahmu?). Sayangnya, dewasa ini banyak produk kosmetik dan skin care yang mengandung bahan-bahan yang diragukan aspek kehalalannya. Baca lebih lanjut

Categories: Iseng-Serius-Menang, Muslimah | Tags: , , , , , , | 34 Komentar

Niatmu Kekuatanmu

Kiki Barkiah

Kekuatan dan ketangguhan seorang manusia untuk tetap istiqomah menjalankan peran, tugas, dan amanahnya berbanding lurus dengan kekuatan motivasi yang dimilikinya terhadap peran, tugas dan amanah tersebut. Tidak ada peran yang mudah kita jalankan dalam hidup, kecuali saat-saat dimana Allah mengaruniakan kemudahan dalam menjalaninya. Oleh karena itu, setiap orang perlu memiliki alasan yang kuat mengapa kita memilih dan menjalankan sebuah peran. Semakin kuat akar motivasi kita dalam melakukan sesuatu, semakin tangguh kita menjalaninya.

Peran dan amanah sebagai orang tua bukanlah hal yang mudah. Apa yang kemudian membedakan mereka yang memilih untuk menikah dengan segala konsekuensinya, sementara banyak pasangan di dunia yang sudah merasa telah mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus mengambil tanggung jawab pernikahan. Ketika pernikahan tidak dipandang sebagai sebuah keabsaahan interaksi laki-laki dan perempuan, maka wajar saja ada sebagian orang yang memilih untuk hidup tanpa ikatan pernikahan. Apa yang kemudian membedakan pasangan suami istri memilih untuk memiliki banyak keturunan…

Lihat pos aslinya 594 kata lagi

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Picky Eater

Kiki Barkiah

Memiliki balita yang sulit makan memang memberi tambahan ladang amal bagi para ibu. Sang ibu harus berfikir kreatif agar komposisi gizi harian bisa seimbang masuk dalam tubuhnya. Terkadang para ibu harus memasak terpisah saat balita tidak mau makan makanan menu utama. Insya Allah pahala membujuk makan para balita tak kalah dengan pahala melobby tender proyek bagi para suami yang bekerja dengan berdasi rapi. Hahahaha.

Jika balita anda sulit makan, sesungguhnya anda tidak sendirian. Banyak para ibu yang mengalami hal serupa.
Namun demikian, jika cara pandang terhadap makan anak tetap mempertahanakan cara pandang “ala indonesia” bahwa makan itu harus nasi, mungkin sebagian ibu akan merasa stress saat balita tidak mau makan. Perlu diketahui bahwa para balita membutuhkan berkali-kali percobaan untuk mencoba masakan baru. Salah satu cara mensiasati balita yang “jago ngemil” dan susah makan nasi apalagi sayur, adalah menyulap bahan-bahan baru dalam sajian makanan yang disukai anak-anak. Melibatkan mereka dalam memasaknya…

Lihat pos aslinya 195 kata lagi

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

HOW TO START HOME EDUCATION?

Review Diskusi Komunitas Home Education Berbasis Potensi dan Akhlak Nasional (hebpa.nas@gmail.com)

Kamis, 27 November 2014

Narasumber: Harry Santosa (praktisi HE sejak 1994, founder Millenial Learning Centre)

Disarikan oleh: Inten Ratna Sari

Ilustrasi buku '50 Fabel Flanel Unik & Seru" (tersedia di penulis)

Ilustrasi buku ’50 Fabel Flanel Unik & Seru” (tersedia di penulis)

Pengantar:

Sesungguhnya hanya kedua orang tualah yang paling kenal potensi dan keunikan anak-anaknya. Dari sanalah karakter-karakter baik dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia.

Dunia persekolahan tidak pernah mengandung dan melahirkan anak-anak kita, bahkan tidak pernah diberi amanah oleh Allah SWT sesaatpun juga. Sehingga dunia sekolah bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan tulus. Siapakah yang diberi amanah itu? Ya, kita, orang tuanya! Orang tua memiliki amanah untuk mendidik generasi peradaban di dunia dan sebagai umat yang membanggakan Nabi Muhammad kelak di Yaumil Qiyamah.

Demi menjalankan amanah itulah, membangun Home Education bukanlah pilihan tapi kewajiban setiap orang tua. Porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.

Lalu, bagaimana cara memulai Home Education ini?

Eits, sebelum membahas caranya.. yuk kita perkuat dulu mindset kita tentang pendidikan rumah alias Home Education.

Baca lebih lanjut

Categories: Muslimah | Tags: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Masa Kritis Menuju Aqil Baligh

Panduan Home Education untuk dipraktekkan sepanjang masa

Winda Maya Frestikawati

Tahap pendidikan pre aqil baligh usia 8-10 tahun merupakan masa kritis dimana anak akan mengalami transisi dari masa egosentris di usia <7th ke kesadaran awal sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial. Tahap ini merupakan tahap latihan dan pembiasaan dengan cara keteladanan dan membangun kesadaran. Metode pendidikan yang paling efektif pada tahap ini adalah experiental learning atau project based learning atau biasa disebut menggali hikmah bersama peristiwa sehari-hari, dr sejarah, atau yg ada di alam semesta. Bagaimana dengan tahap selanjutnya? Pre aqil baligh usia 11-14th?

Pertanyaan ini dibahas pada diskusi di group Home Education berbasis Potensi dan Akhlak pada hari Rabu tanggal 26 November 2014 yang digawangi langsung oleh Subject Matter Expert (SME) tetap kami yaitu Bapak Harry Santosa (founder MLC sekaligus praktisi HE sejak 1994) dan Bunda Septi Peni Wulandani (founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996).

Rasulullah Muhammad SAW, sejak usia 9 tahun telah menjalani pendidikan bersama paman dan…

Lihat pos aslinya 1.523 kata lagi

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Apa Itu Home Education?

Diskusi Komunitas HE Berbasis Potensi dan Akhlak pada hari Rabu, 12 November 2014

Pemateri (SME):

Bapak Harry Santosa (founder Millenial Learning Centre dan praktisi HE sejak 1994)

Bunda Septi Peni Wulandani (founder ibuprofesional.com, School of Life Lebah Putih, Jarimatika Center Indonesia, dan praktisi HE/HS untuk ketiga buah hatinya)

Home Education (gambar dari http://www.ocps.net)

Pengantar:

Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.

Jadi tidak ada yang LUAR BIASA yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang SEMESTINYA orang tua lakukan. Maka syarat pertama dilarang minder ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan misi hidup dari sang Maha Guru.

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yang baik. Setelah itu dilanjuntukan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yang akil baligh secara bersamaan. Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.

Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yang melakukannya.

Hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :

Mendidik

Mendengarkan

Menyanyangi

Melayani (pada usia 0-7 thn)

Memberi rasa aman&nyaman

Menjaga dari hal-hal yang merusak jiwa dan fisiknya

Memberi contoh dan keteladanan

Bermain

Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak

Tugas mendidik bukan menjejali OUTSIDE IN, tetapi INSIDE OUT yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.

Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.

Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.

Fitrah Belajar. Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.

Fitrah Bakat. Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.

Fitrah Perkembangan. Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.

Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.

Pendidikan dan persekolahan adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yang merupakan panggilan hidupnya.

Pendidikan berbasis potensi yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter. Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia.

Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.

Tazkiyatunnafs secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yang syubhat apalagi haram atau waro kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal. Selanjutnya adalah masalah teknis.

Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh tuntutan atau perlakuan yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.

Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.

Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda

Home Education (sumber:home-school.contentquake.com)

Tanya Jawab

T: Beberapa waktu lalu bapak menteri pendidikan kita melempar wacana mengenai wajib belajar (baca: wajib sekolah) 12 tahun. Lebih jauh ada wacana pemberian sanksi untuk keluarga yang tdk mengirimkan anaknya ke sekolah. Itu bgmn ya? Sependek yang saya tau HE atau HS sudah diakui negara karena tercantum dlm uu sisdiknas…Jk mmg wacana itu benar, bgmn sebaiknya kita bersikap?

J: baik bunda erni, pertanyaan kami simpan ya

sambil menunggu datangnya SME

Oiya bund, sy pernah baca status salah satu SME kita yaitu Pak Harry

isinya begini bund:

Kabar baik, bahwa Mendikdasmenbud Anies Basweda menyatakan mendukung dan ingin serius mengupayakan salah satu program pokja pendidikan untuk membuat gerakan semacam sekolah orang tua agar terlibat dalam proses tumbuh kembang anak, orang tua dibekali skill memahami tugas-tugas perkembangan anak sehingga urusan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab di sekolah saja.

Namun perlu disadari bahwa bagi kebanyakan Ortu, mendidik anak diartikan dengan mengajar anak. Para Ortu berfikir bahwa mendidik anak adalah yang pertama mengajarkan akademis spt calistung, matematika, fisika dll lalu plus yang kedua adalah berusaha mengajarkan agama agar anak-anaknya sholeh secara status, spt penurut, pendiam, tidak nakal dstnya.

Yang pertama membuat anak dan ortu stress mengejar nilai rapot, dan yang kedua membuat anak dan ortu terjebak kepada status moral bukan ‘amal manfaat. Mereka stress karena berfikir mendidik adalah menjejalkan semua hal sebanyak2nya untuk dikuasai. Mereka tanpa sadar menjudge bahwa anak-anak mereka lemah semuanya dan dilahirkan tanpa fitrah apapun.

Sesungguhnya mendidik adalah upaya alamiah fitrah dan amanah untuk mengeluarkan (inside out) fitrah2 baik dari diri orangtua dan diri anak-anaknya dengan cara membentuk kesadaran keimanan, kesadaran misi penciptaan lewat bakat dan karakter, kesadaran menyempurnakan akhlak dstnya. Sehingga kita, ayah bunda dan anak-anak kita mampu menjalani peran peradabannya atau misi penciptaannya dengan sebesar2 manfaat dan rahmat, bukan sebanyak2 gelar dan status.

Jadi mendidik Ortu, bukan mengajari ortu hal2 kognitif, namun memberikan mereka kesempatan untuk membangun kebersamaan dengan anak-anaknya (spt tunjangan cuti hamil dan cuti menyusui 2 tahun), memberi kepercayaan diri untuk mendidik anak-anaknya, memberikan wawasan thd tahap2 perkembangan pertumbuhan aspek fisik, mental, psikologis, dll serta roadmap dan guidance detail mendidik anak sebagaimn dimaksud dengan pendidikan sejati, bukan pengajaran persekolahan akademis.

Intinya adalah mengembalikan peran pendidikan peradaban para Orangtua.

Jawaban Pak Harry Santosa: Baik, kami juga mendiskusikan intens di berbagai forum. UU di Indonesia sesungguhnya mengakui pendidikan formal, informal dan nonformal. Intinya tidak me “Wajib Pendidikan Formal” tetapi menyediakan HAK BELAJAR bagi semua rakyat Indonesia. Entah mengapa Kewajiban Negara menyediakan Hak Belajar, kemudian berubah menjadi Wajib Belajar, dan ujung2nya menjadi Wajib Sekolah (pendidikan formal). Karena itu Anies Baswedan juga sdg bingung karena tidak ada Payung Hukumnya untuk memaksa orang Wajib Sekolah. Negara mengakui pendidikan informal dan nonformal, artinya orang boleh tidak bersekolah formal. Namun kenyataannya, kita semua digiring untuk menyekolahkan anak kita di sekolah formal. Bahkan banyak HS yang kemudian, berubah menjadi Bimbingan Belajar untuk memperoleh Ijasah Kesetaraan, yang ujung2 nya dipaksa untuk menjadi Formal juga

T: 1. Bagaimana meyakinkan suami & keluarga tentang HE. Karena kita butuh komitmen suami/ kel untuk berpartisipasi dalam HE kan?

  1. Bagaimana meyakinkan teman/para ibu tentang HE? Sebagian teman irt berpendapat skolah lebih baik karena selain guru itu lebih pintar & memang dilatih untuk mendidik, irt minder karena mgkn pendidikan, bgmn dg pekerjaan rumah, atau belum tinggal mandiri masih bersama ortu & saudara yang lain.

Apalagi kl teman adalah istri yang bekerja, bbrp dr merasa HE bukan untuk mereka.

J: Jawaban pertanyaan kedua, ada kaitannya dengan penjelasan pertama. Belajar itu Wajib, namun tidak ada satu ayat atau hadits pun yang mewajibkan bersekolah. Persekolahan adalah lembaga yang dilahirkan karena tuntutan era industri untuk mencetak sebanyak mungkin skill labour dan knowledge worker. Karakter, bakat, akhlak menjadi sesuatu yang tdk penting pada era industri. Oleh karena itu KHD, KH Ahmad Dahlan dll melakukan perlawanan atas sistem persekolahan industrial yang dibawa Belanda lewat politik etis tahun 1901. Ki Hajar Dewantoro (KHD) dan KH Ahmad Dahlan, menyuarakan agar pendidikan kembali kepada kesejatiannya yaitu membangun akhlak dan fitrah manusia termasuk fitrah alam dan keunikan lokalitas. Dalam bahasa KHD, fitrah disebut Kodrat Anak dan kodrat alam serta kodrat masyarakat. Mohon maaf, model pendidikan Taman Siswa dan Muhammadiyyah hari ini sudah 100% meniru persekolahan Belanda. Sisa2 pendidikan yang digagas Muhammadiyah tempo dulu, masih terekam dalam Novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Fokusnya hanya 2, yaitu akhlak dan bakat. Sebaik(nya) meyakinkan pasangan, baik suami atau istri adalah bahwa sebaik-baik pendidikan adalah yang selaras dengan fitrah. Perintah menjaga fitrah anak adalah perintah agama. Sebaik2 makhluk di muka bumi yang diberi amanah untuk menjaga fitrah adalah Ayah dan Ibunya, Rumah dan Keluarganya. Menjawab bahwa guru lebih pintar dari ortu, tentu iya untuk pengajaran mata pelajaran. Pendidikan berbeda dengan Pengajaran. HOME EDUCATION atau Home Schooling yang benar adalah tidak memindahkan pelajaran sekolah ke rumah. Kalau untuk pelajaran sekolah, mohon maaf guru2 bimbel jauh lebih pintar dari guru sekolah. Guru2 bimbel juga masih kalah luas dan dalam dibanding pengetahuan yang ada dunia maya dan ditangan para maestro.

T: Salahkah kalau sy berpendapat HS (Home Schooling) itu tdk sama dengan HE (Home Education)?

J: Bunda Winda, HS bisa mirip sama HE jika fokus pada bakat dan akhlak. Tetapi umumnya HS itu lebih mengutamakan belajar secara bebas dari kehidupan, sebagian HS malah menyimpang dengan memindahkan pelajaran sekolah ke rumah. Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yang baik dengan cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah2 baik itu (inside out) yang Allah karuniakan kepada anak-anak kita. Di antara Fitrah itu adalah bahwa tiap anak yang lahir adalah pembelajar yang tangguh. Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai, rangking dll. Namun fitrah juga meliputi fitrah keimanan/kesucian, bahwa tiap anak menyukai kebenaran, keadilan, menyukai Zat Yang Maha Hebat, membenci kezhaliman, kekasaran, dstnya. Selain itu Fitrah juga meliputi Bakat/Talent, bahwa setiap anak dilahirkan dengan sifat2 unik yang produktif yang merupakan misi penciptaannya dan peran spesifiknya sebagai Khalifah. Orang menyebutnya panggilan hidup. Ada lagi fitrah yang terkait tahap-tahap perkembangan anak sesuai kronologis usianya. Inipun fitrah yang menjadi hak anak-anak untuk dipuaskan dan dikenyangkan hak pendidikannya pada tiap tahap usianya. Semua fitrah itu diamanahkan untuk dijaga dan dididik, utamanya kepada ayah bunda, lalu kepada setiap anggota keluarga (kakek, nenek, paman, bibi, kakak dll) serta komunitas sekitar (ulama, pemimpin, tetangga dll) untuk bersama mendidik anak-anak pada komunitas itu sesuai fitrah2 di atas. Masalah terbesarnya adalah kita menyangka bahwa mendidik adalah mengajar, belajar adalah bersekolah. Obyek nya adalah akademik, ukuran suksesnya adalah nilai dan ijasah serta gelar. Kebanyakan keluarga2 sudah kecanduan menitipkan anaknya pada lembaga dengan alasan tdk mampu mendidik (dalam benak mereka disuruh mengajar matematika, fisika dll). Saya paham bahwa banyak keluarga yang ayah ibu nya terpaksa harus bergelut dengan nafkah, sehingga lebih memilih menitipkan anaknya pada lembaga. Tetapi sebagian keluarga yang ekonominya cukup juga turut menitipkan anak-anaknya pada lembaga. Makin banyak income nya, makin dipilih lembaga yang mahal dan bergengsi karena dianggap berkualitas.

T: Untuk keluarga yang orang tuanya bergelut dengan mencari nafkah, bagaimana untuk mencapai hal ideal yaitu bisa full time bersama anak? mungkin dilakukannya bertahap

J: keluarga-keluarga yang terpaksa harus mencari nafkah karena miskin, menitipkan anak pada lembaga sekolah adalah darurat. Diupayakan tidak selamanya demikian, bertahap diusahakan, atau diupayakan membentuk komunitas/jamaah HE sehingga bisa kolektif bergantian mendidik. Islam membolehkan bahkan menganjurkan agar sesekali menitipkan anak pada keluarga shalihah dimana sosok ayah dan ibu lengkap hadir. Mohon maaf, pendidikan anak sampai menjelang aqil baligh, menurut saya tdk bs didelegasikan pada siapapun, kecuali terkait pelengkap spt skill dan knowledge.

 

T: Orang tua sebagai coach setelah anak aqil baligh itu apa maksudnya?

J: Saya lebih suka menyebut peran ortu setelah anak aqilbaligh sebagai senior Partner, bisa juga diartikan sebagai Coach. Itu sesuai dengan ucapan Sahabat Nabi bahwa 7 tahun ke 3, berarti usia 14-21 tahun, anak kita menjadi “teman”. Tentu saja teman, karena secara Syar’i, anak yang telah mencapai aqil baligh di usia 14–15 tahun, sudah menjalani Sinnu Taklif, masa2 pembebanan kewajiban syariah. Artinya kewajiban syariah kita dan anak-anak kita, tiba2 menjadi setara, yaitu kewajiban dalam ibadah spt sholat-zakat-haji, kewajiban dalam dakwah, kewajiban dalam jihad, termasuk kewajiban2 dalam urusan nafkah, dan muamalah lainnya. Semua ulama, setahu saya sepakat, bahwa anak-anak yang sudah aqil baligh tidak wajib dinafkahi lagi. Jika ada anak kita yang sudah aqil baligh, atau usia di atas 14-15 tahun masih dinafkahi, maka itu namanya sedekah, karena statusnya fakir miskin. Nah disinilah perlunya peran Coach atau partner untuk mendampinginya mandiri dalam kehidupan sebenarnya. Ada jurnal ilmiah psikologi yang menyebutkan bahwa anak-anak yang sudah aqilbaligh menyukai jika dia dianggap sebagai orang dewasa yang setara. Kenakalan2 dan kegalauan mereka diakibatkan karena mereka selalu dianggap bocah padahal sudah berusia 15 tahun, bahkan sampai 25 tahun masih dianggap bocah. Mereka memerlukan pengakuan dan tugas2 sosial dan bisnis agar mereka merasa eksis dan percaya diri menjalani kedewasaannya. Rasulullah SAW bahkan mulai magang dan menjadi partner bisnis Pamannya sejak usia 9-10 tahun. Setiap pemuda memerlukan pembimbing hidup, kehidupan dan akhlak

T: Apakah kita perlu menanyakan kpd anak untuk meng-HE-kan anak Atau itu hak kita sbg ortu yg wajib menentukan pendidikan anak kita? karena anak sy bilang kpd sy ingin sekolah

J: Istilahnya bukan mengHE kan anak ya. Karena tanpa mengHE kan anak pun, sejak dalam kandungan sampai lahir pada galibnya sudah HE. Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqil baligh, kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqilbaligh. Bagi saya, pertanyaannya apakah anak itu wajib HE, ya jelas wajib. Apakah wajib sekolah, maka jawabannya tergantung. Yang bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan formal dapat berkembang optimal di keluarga dan komunitas atau di sekolah??Bagi saya ada anak-anak yang cocok dengan model belajar di sekolah formal, biasanya mereka berfikir terstruktur, sangat kognitif, sangat formal, otak kiri banget dll Silahkan saja… tetapi tetap saja banyak aspek fitrah lainnya tdk bisa diserahkan pada sekolah formal. Untuk usia 0-7tahun, fokus HE tetap pada 3 fitrah itu… aqidah dan akhlak, belajar dan bakat.

Pendidikan Aqidah Usia Dini

Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yang kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yang benar dan baik dalam kehidupan anak-anak kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?

Menurut yang saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bahwa sesungguhnya setiap anak manusia yang lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kepada Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yang tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian maka, yang kedua adalah bahwa tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji2 positif ttg Allah swt, ttg ciptaanNya yang ada pada dirinya dan ciptaanNya yang ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yang ketiga adalah dengan metode untuk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah2 yang ada di alam, hikmah yang ada pada peristiwa sehari2, hikmah pada sejarah, hikmah2 pada keteladanan dstnya. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yang memiliki akhlak yang mulia sepanjang sejarah, baik yang ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yang ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya. Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2 dengan menggali hikmah2 yang baik dan inspiratif. Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dengan, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yang baik, mulia dan indah bahkan sastra yang tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yang terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yang tinggi. Para Sahabat Nabi SAW yang dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yang baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.

Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan untuk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yang mengisnpirasi, melalui kegairahan yang berangkat dari keteladanan, pemaknaan yang baik melalui bahasa ibu yang sempurna dstmya. Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yang buruk ketika anak kita kelak dewasa.

Sampai sini kita menyadari bahwa peran orangtua sebagai pendidik yang penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yang diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak-anaknya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dengan kitab dan hikmah. Bukankah ortulah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat bukan yang lain?

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasispotensi akhlak

Welcome back to #homeeducation

Sejatinya tiap anak lahir dalam keadaan fitrah yang baik. Maka tugas ortu adalah bukan menjejalkan (outside in) namun mengeluarkan (inside out) fitrah-fitrah.

  1. Fitrah Kesucian dan kebenaran. Tiap anak menyukai kehebatan, suatu hari mereka sadar bahwa mereka butuh dan tergantung pada Zat yang Maha Hebat. Tiap anak suka diperlakukan baik, penuh damai, harmony dan adil dstnya, suatu hari mereka akan rela dan ikhlash memperjuangkan kedamaian, keharmonian dan keadilan. Tiap anak suka tutur yang lembut, perangai yang santun, wajah yang ceria dstnya, suatu hari mereka akan menyampaikan hikmah dengan lembut, santun dan berseri. Jika ada anak yang tdk menyukai itu semua, maka fitrahnya telah menyimpang. Namun itu semua, sejak awal kelahiran, baru sifat dan perlu dibangkitkan dan disadarkan dengan sensitifitas, imajinasi, bahasa ibu, interaksi di alam dstnya.
  2. Fitrah Belajar. Tiap anak adalah pembelajar sejati yang tangguh dan tak kenal putus asa. Sebuah jurnal ilmiah menyebut bahwa tiap anak adalah scientist. Jika ada anak yang tdk menyukai belajar, maka fitrahnya telah menyimpang. Kesukaan dan kegemaran belajar itu mesti terus ditumbuhkan lewat tradisi2 bertanya di rumah, tradisi belajar ayah ibu dan lingkungannya, budaya berbagi pengetahuan dan intelectual curiosity.
  3. Fitrah Bakat. Tiap anak memiliki sifat bawaan yang unik, yang disebut dengan Bakat. Sifat ini mesti digali, dipetakan, disadarkan melalui beragam aktifitas dan kemudian direncanakan serius untuk dikembangkan sampai menuju perannya. Inilah panggilan hidup anak-anak kita yang akan menjadi misi spesifik penciptaannya sebagai Khalifah.
  4. Semua Fitrah itu, 1-2-3 di atas memiliki Sunnatullah Tahapan sesuai perkembangan usia. Usia 0-7, usia 8-14, usia di atas 14, harus dipetakan dengan pendidikan.

Buku Guide hasil kompilasi MLC sudah siap untuk dibagikan akhir tahun ini, akan dibagikan gratis ke teman2 semua InsyaAllah. (huraay,,ditunggu ebook nya pak Harry^^)

Menurut saya yang penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yang paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah…. siapa yang peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kepada penuntasan akademis dan standar kelulusan. Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan untuk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu. Urusan akademis saja sudah kehabisan nafas. Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dengan guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu… mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pada pengembangan fitrah bukan ijasah. Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah… tidak tergantikan di dunia dan di akhirat

Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yang artinya menumbuhkan, membimbing dll. AlQuran menyebut spt burung yang merendahkan sayapnya untuk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yang menyebut pendidikan dengan TA’DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yang dianut.

Sebaik2 guru adalah kedua ortunya

Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro

Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah

Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dengan mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah

Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta

T: Pak harry, apakah bunda bekerja dapat melaksanakan HE

J: Ya syarat semuanya tentu saja para ortu dan pendidik mesti memperbaiki ruhiyahnya, atau tazkiyatunnafs. Ruh yang baik akan bertemu dengan ruh yang baik, fitrah baik anak-anak kita akan bertemu dengan fitrah baik dari kedua orangtuanya. Apa yang disampaikan dari ruh akan sampai di ruh, apa yang disampaikan dari mulut saja maka akan berhenti di telinga saja

J(Bunda Septi): Mau nambahin dikit ttg ibu bekerja dan HE. Di seminar HE payakumbuh kemarin muncul pertanyaan ttg ini. Jawaban saya semua ibu baik yang bekerja di ranah publik maupun di ranah domestik, wajib menjalankan HE.

T: Bu Septi bagaimana menjalankan HE bagi single parent?

J: Caranya, berusahalah meluruskan niat terlebih dahulu, apakah keluarnya kita dari rumah membuat iman, akhlak, adab anak-anak kita lebih baik. Kalau ya, maka boleh kita lanjutkan, dan energy kita harus dobel, istilah mobil dobel gardan. Management waktu harus ditingkatkan, kl kita berangkat kerja cantik, harum dan sabar, maka pulang harus lebih cantik, lebih harum dan lebih sabar. Jadilah anda manager pendidikan anak-anak, manager gizi anak-anak, dll sehingga ketika anak kita delegasikan ke pihak lain selama kerja, masih di bawah management kita. Kalau tidak sanggup dobel gardan pilih salah satu. Demikian juga unt single parent, harus memanage dg sangat bagus. Saya dididik ibu single parent sejak kls 2 SD, beliau tdk pernah marah, kl sdg sedih di dlm kamar, menurut ibu saya, kamar itu back stage, keluar kamar sudah on stage

T: Bu Septi, saya sudah berusaha dress up, tapi tetep aja tampilannya masih berantakan ya… Main sama anak, pasti gulung lengan, roknya dinaikkin…walaupun di rumah aja, berasa gak bisa tampil cantik

J: Mb irene, dress up 7 to 7 itu tidak harus rapii terus sepanjang hari, yang terpenting adlh momen berubah, dari yang ala kadarnya menjadi bersungguh-sungguh.Yang menyedihkan kl sudah rapi justru tidak mau bermain dg anak-anak.hal tsb keluar dr esensi utama.

T: Untuk pekerjaan rt apakah sebaiknya dikerjakan diluar jam bersama anak? Misalnya main sama anak jam 8-11 dan jam 13-17

J: Ya, sebaiknya memang fokus. Mk seorang ibu perlu ilmu management waktu dg SANGAT baik

Tiap anak lahir membawa fitrah2 yang baik, selain fitrah keimanan juga fitrah bakat dan fitrah belajar. Semua bekalan itu adalah dalam rangka menjalankan misi penciptaannya sebagai Khalifah di muka bumi yang perannya mampu memberi rahmat dan manfaat bagi manusia dan semesta alam.

Fitrah belajar adalah bahwa tiap anak dikaruniai sejak lahir sebagai pembelajar sejati yang tangguh dan innovatif. Tidak ada seorang bayipun yang memutuskan merangkak seumur hidup atau disuapin seumur hidup. Semua anak belajar untuk hidup dan kehidupan dengan shabar, rileks dan konsisten.

Jika ada anak yang tidak menyukai belajar, maka ada yang menyimpang dari fitrahnya. Penyebabnya, tentu saja mereka atau lembaga yang berfikir tiap anak harus dijejalkan berbagai pengetahuan karena dianggap lemah dan bodoh. Penjejalan ini bersifat menekan, kaku, formal, terlalu orangtua oriented, bergaya ambisius, memberi target nilai, tidak freedom memilih, tdk peduli kekhasan anak dstnya

Tahukan siapa?

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasispotensi

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 272 pengikut lainnya