Membeli Mainan.. dari Tabungan Sendiri ^^

Membeli Mainan.. dari Tabungan Sendiri ^^

Sabtu, 16 September 2017

“Aku mau beli mainan!”

Nah nah, muncul lagi kalimat itu di rumah AIUE (singkatan dari nama-nama penghuni rumah,hehe).

“Oke, belinya dari tabungan Estha kan?” Bunda mengingatkan.

“Tapi aku mau yang mahal-mahal”

“Iya, tiga ribu kan mahal” kata Bunda. Tabungan nya memang sudah bertambah seribu dari kemarin.

Allah Maha Pemberi Rezeki, Ia gerakkan tangan Mama (neneknya Estha) untuk menambah tabungan Estha dengan 4 keping logam 500.

“Alhamdulillah,coba Estha hitung, ada berapa uangnya sekarang?”

“1..2..3..10 bunda!”

“Iya, artinya itu jumlahnya lima ribu” kata Bunda.

Kami pun bermotor ke Poris Indah, tempat toko yang menjual mainan mulai harga seribu perak eh seribu rupiah hehe. Di perjalanan, Bunda ingatkan Estha untuk berdoa

“Estha udah berdoa minta mainan ke Allah? Soalnya kalo kata Allah boleh, kita bisa dapet mainan. Tapi kalo kata Allah ga boleh, kita ga akan bisa dapet mainan. Bisa aja nanti uangnya kurang. Atau tokonya tutup. Atau lainnya. Pokonya semua tergantung Allah!” Bunda coba sampaikan dengan kalimat-kalimat singkat. Karena menurut teori, anak/laki-laki hanya bisa menyerap maksimal 15 kata dalam sekali dengar.

Sampai di toko, kami pun memilih-milih mainan yang berlabel ‘5000’. Qodarullah, yang dipilih Estha adalah balon seharga tiga ribu. Persis dengan tabungannya ^^. Bunda lalu ambilkan uang receh tiga eibu itu lalu menyerahkannya pada Estha. “Berikan ke tante ya” kata Bunda. Ia pun memberikan uang itu ke penjaga toko yang sudah standby di sebelah kami. Sengaja bunda minta Estha yang bayar agar ia merasakan sensasi ‘membeli dengan uang sendiri’ dan karenanya lebih menghargai mainan yang ia beli. Di rumah memang dia excited banget dengan balon ini sih. Minta ditiupkan lalu dilempar-lempar sendiri ^^

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Iklan
Hari Kedua Menabung

Hari Kedua Menabung

Jumat, 15 September 2017

Bunda menyodorkan 2 keping uang logam 500 pada Estha, ia memasukkannya ke ‘celengan’ dengan senang. Plung plung. Plastik celengan yang semula digeletakkan di meja kini ia gantung di pintu dengan selotip! Hehe. Ada ada saja laku bocah 4 tahun ini.

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Tabungan Pertamaku

Tabungan Pertamaku

“Aku mau beli mainan! Yang mahal-mahal!”

Itu adalah seruan Estha sebulan terakhir ini. Hampir tiap hari ia minta beli mainan baru, tak peduli moodnya sedang cerah atau mendung! Pusiing kami dibuatnya. Tak dituruti, tantrumnyaa weleh weleh. Alhamdulillah kini Allah beri jalan keluarnya …

Kamis, 14 September 2017

Malam yang cerah. Entah darimana awalnya (tepatnya bunda lupa x_x) , obrolan bunda dan Estha mengarah ke tabungan.

“Aku suka menabung” kata bocah itu. Padahal dia belum pernah menabung!

“Oke, kalo gitu mulai malam inj,bunda tiap hari kasih Estha uang seribu,untuk ditabung. Gimana?” Bunda langsung nyamber.

“Iya! Aku mau!”

“Hemm nabungnya dimana y?”

Sang bocah melirik meja. Di atasnya ada surat undangan pernikahan dan plastik pembungkusnya. “Pakai ini saja!” Ujarnya sembari mengacungkan plastik kotak itu.

“Wah, apa ga gampang sobek tuh?”

‘engga dong, aku jaga supaya ga sobek!” Kata sang bocah keukeuh. Okelah, bunda memberinya 2 keping uang logam 500. Ia memasukkannya dengan berbinar-binar. Plung plung!

“Naah,,nanti kalau Estha mau beli mainan, belinya dari tabungan Estha,gimana?” Kata bunda

“Mmm iya deeh”

Yes! Si bocah setuju! Mudah-mudahan beneran terlaksana. Aamiin *doa khusyuk

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Melatih Anak Berdagang

Melatih Anak Berdagang

🍓🍎🍐 Cemilan Rabu #8.1 🥝🍉🥑

 

⚖ *Melatih Anak Berdagang* ⚖

Perhatian Rasulullah dalam membentuk anak dalam hal sosial maupun ekonomi terlihat jelas dalam bimbingan beliau. Sebab kegiatan berdagang akan memberikan gerakan sosial kemasyarakatan yang kuat pada anak.

Manfaatnya bagi anak,
🌷Anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya
🌷Membiasakan diri terus berkembang
🌷Memanfaatkan waktu untuk hal-hal berguna
🌷 Memperoleh kepercayaan diri
🌷 Belajar bersusah payah, terbiasa memberi dan menerima serta memahami kehidupan dengan baik dan benar.

Rasulullah bahkan mendoakan anak kecil agar Allah memberikan berkah dalam usahanya untuk berdagang. Abu Ya’la dan Tabrani meriwayatkan dari Amru Bin Hutais bahwa “Rasulullah melewati Abdullah Bin Ja’far yang ketika itu sedang melakukan transaksi jual beli dengan anak-anak yang lain. Lalu berdoa,

_”Ya Allah, berkahilah transaksi jual belinya.”_

Anak yang mulia ini adalah anak dari paman Rasulullah. Rasulullah tidak merasa malu, namun justru mendoakan keberkahan untuknya.

 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Nasional/

 

📚Sumber bacaan:
(Cara Nabi Mendidik Anak, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, 2013)

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #8_

*MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI*

*_Apa itu Cerdas Finansial?_*

Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.

Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar bertanggungjawab terhadap bagian rejeki yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini.

*_Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?_*

Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu,

_Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari_

Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar :

_Kemuliaan Anak Meningkat_

dengan cara :

a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.

b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.

c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.

d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan “gaya hidup” sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.

f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.

_Bagaimana Cara Menstimulus Cerdas Finansial pada Anak_?”

1.Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki, sangat luas dan banyak, uang/gaji orangtua itu hanya sebagian kecil dari rejeki.

Sehingga jangan batasi mimpi anak, dengan kadar rejeki orangtuanya saat ini.

_Karena sejatinya Anak-anak adalah milik Dia Yang Maha Kaya, bukan milik kita_

Sehingga kalau akan minta sesuatu yang diperlukan anak, mimpi sesuatu, mintalah ke Dia Yang Maha Kaya, bukan ke manusia, meski itu orangtuanya.

2. Ajak anak berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda

Keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

Bantu anak-anak membuat skala prioritas kebutuhan hidupnya berdasarkan dua hal tersebut di atas.

3. Setelah paham dengan prioritas kebutuhan hidupnya, maka latih anak untuk membuat “mini budget”, sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioriitas

Mini budget ini bisa dibuat 3 harian, 1 minggu atau 1 bulan bergantung pada kemampuan dan usia anak.

Dengan adanya mini budget ini anak akan berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah disepakati, kemudian bertanggung jawab menerima konsekuensi apapun atas kesepakatan yang sudah dibuatnya

4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita.

Contoh : Apabila mini budget sudah disetujui oleh orangtua, dana sudah keluar, anak-anak akan belajar memakai ketentuan yang sudah disepakati keluarga misal kita ambil contoh sbb:

Hak Allah : 2,5 – 10% pendapatan
Hak orang lain : max 30% pendapatan
Hak masa depan : min 20% pendapatan
Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan

5. Lakukan apresiasi setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan.

Latih lagi anak-anak untuk membuat mini budget berikutnya dengan lebih baik.

Prinsipnya adalah : Latih – percayai-jalani-supervisi-latih lagi.

 

Ingat sekali lagi prinsip di Ibu Profesional

_for things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST_

Apabila kita menginginkan perubahan maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu.

Maka sejatinya materi ini adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara _learning by teaching_ belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang cerdas finansial ini adalah kita, orangtuanya, kemudian pandu kecerdasan finansial anak-anak kita sesuai tahapan umurnya.

Salam Ibu Profesional,

 

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

 

📚Sumber bacaan

_Ahmad Gozali, Cashflow for muslim, 2016_

_Septi Peni Wulandani, Mendidik Anak Cerdas Finansial, bunda sayang, 2015_

_Eko P Pratomo, Cerdas Finansial, artikel Kontan, 2015_

Creating

Creating

Sabtu, 2 September 2017

Tok tok tok! Terdengar suara berulang di freezer ASI. Pintu freezer itu terbuka. Terlihat di dalamnya, Estha sedang memukul-mukul es di dalamnya. Es yang sudah pecah kemudian dipindahkan ke baskom lalu ditambah air. Terakhir, hiu dan paus mainan meluncur ke dalamnya. Tadaa! Jadilah akuarium ikan (kutub utara) ^^

Hari ini Estha telah menciptakan (creating) akuariumnya sendiri.

Enjoy? Yes. Ia sangat antusias. Kemarin saat pertama kali membuat akuarium ini (bersama bunda),ia tahan memainkannya berjam-jam.

Easy? Yes,ini kan memang sederhana hehe.

Excellent? Lumayan,,

Earn? Nah,Ada yang mau beli ‘akuarium’ ini? ^^

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunSayIIP

#BintangKeluarga

Observing

Observing

Jumat, 10 Dzulhijjah 1438 H

Idul Adha! Bagi Estha,ini waktunya bangun pagi, sholat Ied dan mengamati hewan-hewan kurban yang duduk tenang di halaman masjid. Masya Allah, seakan mereka tahu bahwa manusia di sekitarnya sedang khusyuk menyembah Sang Pencipta dan tak ingin membuat manusia waswas jika mereka berjalan-jalan!

Pagi ini, Estha mengamati seekor sapi cokelat yang duduk di samping-belakang shaf sholat kami.

Berikut hasil pengamatannya:

Sapinya lagi makan

Lidahnya keluar, kaya kodok (menangkap lalat)

Ekornya ko gerak-gerak?

Itu kakinya kenapa? (Kaki sapinya memang tampak aneh karena tertekuk)

Seingat Bunda, setiap berada di keramaian, Estha cenderung diam dan mengamati. Selain sapi, pagi ini Estha juga mengamati anak lain yang berjalan-jalan saat sholat ied berlangsung, juga anak perempuan yang menangis karena takut sapi. Bila objek pengamatannya tertawa, ia ikut tertawa. Bila mereka menangis, ia bergumam-gumam “ko nangis sih, berisik”

Jadi, Aktivitas ini tampaknya dinikmati Estha (enjoy), tapi hasil pengamatannya belum dapat dinilai secara profesional (tsaah ^^)

#Tantangan10Hari

#Level7

#BintangKeluarga

#KuliahBunSayIIP