MLM, Halalkah?

MLMAda banyak pendapat pro dan kontra mengenai kehalalan MLM. Hal ini tentu meragukan masyarakat yang ingin terjun dalam bisnis ini-terutama yang beragama islam. Marilah kita analisis saja pendapat-pendapat itu supaya kita bisa memutuskan halal atau tidaknya suatu MLM. Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara MLM murni dan money game berkedok MLM/MLM bersistem pemasaran piramida. Untuk sistem pemasaran piramida hukumnya adalah haram, sebagaimana dijelaskan dalam fatwa berikut.

  Fatwa Lajnah Da’imah pada tanggal 14/3/1425 H dengan nomor (22935)

Lajnah Da’imah adalah komisi khusus bidang riset ilmiah dan fatwa yang beranggotakan ulama-ulama terkemuka di Saudi Arabia. Komisi ini telah menjadi rujukan kaum muslimin di berbagai belahan bumi.

Lajnah Da’imah mengeluarkan fatwa berdasarkan kajian terhadap perusahan-perusahaan berjejaring seperti Biznas dan hibah Al-Jazirah. Perusahaan Biznas (M/s BizNas.com) ialah perusahaan MLM yang menggunakan skema piramida dan berkedok menjual pengajaran komputer dan atau menjual website. Anggota Biznas ini mendapatkan komisi bukan dari persentase penjualan tetapi dari jumlah tertentu pembeli baru di bawah akun anggota tersebut. Menurut anggota yang bergabung pada 2003, ia akan mendapat $55 jika berhasil mendapatkan sembilan pembeli baru. Terdapat banyak aturan lain tetapi kira-kira inilah dasarnya. Perusahaan ini didirikan pada 5 maret 2002 dan berbasis di Dubai, UAE.

Definisi  aktifitas pemasaran berpiramida/berjejaring:

Yaitu kegiatan meyakinkan seseorang untuk membeli sebuah barang atau produk agar dia (juga) mampu meyakinkan orang-orang lain untuk membeli produk tersebut (dan) agar orang-orang itu juga meyakinkan yang lainnya untuk membeli, demikian seterusnya. Setiap kali bertambah tingkatan anggota dibawahnya (downline), maka orang yang pertama akan mendapatkan komisi yang besar yang mencapai ribuan real. Setiap anggota yang dapat meyakinkan orang-orang setelahnya (downline-nya) untuk bergabung, akan mendapatkan komisi-komisi yang sangat besar yang mungkin dia dapatkan sepanjang berhasil merekrut anggota-anggota baru setelahnya ke dalam daftar para anggota.

Tujuan dari transaksi pemasaran ini adalah komisi dan bukan produk. Terkadang komisi dapat mencapai puluhan ribu sedangkan harga produk tidaklah melebihi sekian ratus. Seorang yang berakal ketika dihadapkan di antara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu, sandaran perusahaan-perusahaan ini dalam memasarkan dan mempromosikan produk-produk mereka adalah menampakkan jumlah komisi yang besar yang mungkin didapatkan oleh anggota dan mengiming-imingi mereka dengan keuntungan yang melampaui batas sebagai imbalan dari modal yang kecil yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan ini hanya sekedar label dan pengantar untuk mendapatkan komisi dan keuntungan.

Hukumnya:

Haram , karena beberapa alasan:

1.       Transaksi tersebut mengandung riba dengan dua macam jenisnya: riba fadhl dan riba nasi’ah.

Riba Fadhl ialah penambahan pada salah satu dari dua barang ribawy (yaitu barang yang berlaku pada hukum riba) yang sejenis dengan transaksi yang kontan sedangkan Riba Nasi’ah adalah transaksi antara dua jenis barang ribawy yang sama sebab ribanya dengan tidak secara kontan. Anggota membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya. Maka ia adalah barter uang dengan bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak cash). Dan ini adalah riba yang diharamkan menurut nash Al Qur’an dan As-Sunnah dan kesepakatan para ulama. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota (untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya), sehingga (keberadaan produk) tidak berpengaruh dalam hukum (transaksi ini).

2.       Ia termasuk gharar yang diharamkan menurut syari’at, karena anggota tidak mengetahui apakah dia akan berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak

Bagaimanapun pemasaran berjejaring atau piramida itu berlanjut, pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung di dalam piramida, apakah dia berada di tingkatan teratas sehingga ia beruntung atau berada di tingkatan bawah sehingga ia merugi? Dan kenyataannya, kebanyakan anggota piramida merugi kecuali sangat sedikit di tingkatan atas. Kalau begitu yang mendominasi adalah kerugian. Dan ini adalah hakikat gharar, yaitu ketidakjelasan antara dua perkara, yang paling mendominasi antara keduanya adalah yang dikhawatirkan. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari gharar sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya

3. Apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa memakan harta manusia dengan kebatilan, dimana tidak ada yang mengambil keuntungan dari akad (transaksi) ini selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan dengan tujuan menipu anggota lainnya. Dan hal inilah yang datang nash pengharamannya dengan firman (Allah) Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” [An-Nisa’:29]

4. Apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa penipuan, pengkaburan dan penyamaran terhadap manusia, dari sisi penampakan produk seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal kenyataanya adalah menyelisihi itu. Dan dari sisi, mereka mengiming-imingi komisi besar yang seringnya tidak terwujud. Dan ini terhitung dari penipuan yang diharamkan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Siapa yang menipu maka ia bukan dari saya” [Dikeluarkan Muslim dalam shahihnya]

Dan beliau juga bersabda,

“Dua orang yang bertransaksi jual beli berhak menentukan pilihannya (khiyar) selama belum berpisah. Jika keduanya saling jujur dan transparan, niscaya akan diberkati transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksinya.”[Muttafaqun’Alaihi]

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah (pemakelaran), maka itu tidak benar. Karena samsarah adalah transaksi (dimana) pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya mempertemukan barang (dengan pembelinya). Adapun pemasaran berjejaring, anggotanya-lah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut. Sebagaimana maksud hakikat dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berjejaring, maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu orang yang bergabung (dalam MLM) memasarkan kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya. Berbeda dengan samsarah, (dimana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan diantara dua transaksi adalah jelas.

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), maka ini tidak benar, andaikata (pendapat itu) diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syari’at. (Sebagaimana) hibah yang terkait dengan suatu pinjaman adalah riba. Karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah radhiyallahu’anhuma,

“Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba tersebar padanya. Maka jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadamu sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan maka ia adalah riba.”[Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dalam Ash-Shahih]

Dan (hukum) hibah dilihat dari sebab terwujudnya hibah tersebut. Karena itu beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda kepada pekerjanya yang datang lalu berkata, “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda,

“Tidakkah sepantasnya engkau duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu apakah dihadiahkan kepadamu atau tidak?” [Muttafaqun’Alaih]

Dan komisi-komisi ini hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran berjejaring. Maka apapun namanya, baik itu hadiah, hibah atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali tidak mengubah hakikat dan hukumnya.

Dan (juga) hal yang patut disebut disana ada beberapa perusahaan yang muncul di pasar bursa dengan sistem pemasaran berjejaring atau berpiramida (MLM) dalam transaksi mereka, seperti Smart Way, Gold Quest dan Seven Diamond. Dan hukumnya sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah berlalu penyebutannya. Walaupun sebagiannya berbeda dengan yang lainnya pada produk-produk yang mereka perdagangkan.

Dapat disimpulkan bahwa fatwa ini ditujukan bagi MLM yang menggunakan sistem piramida. Sebuah sistem yang sudah jelas merugikan dan telah dilarang di berbagai Negara, seperti Amerika, Australia, dan lain-lain. Sejujurnya, sistem piramida ini tidak dapat dikatakan MLM, ia adalah money game. Perbedaan sistem penjualan langsung yang diterapkan oleh MLM murni (penulis mengambil MLM Oriflame sebagai perbandingan) dan sistem piramida ada di  apli.or.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=130&Itemid=60

 Lalu, bagaimana dengan hukum MLM murni? Di sinilah terdapat banyak perbedaan pendapat. Penulis akan memaparkan pendapat tersebut kemudian mengkaji dan membandingkannya dengan MLM Oriflame dengan seobjektif mungkin.

Pendapat pertama: Hafidz Abdurrahman (seorang blogger)

Deskripsi Multilevel Marketing:

Bisnis yang dibangun berdasarkan formasi jaringan tertentu; bisa top-down (atas-bawah) atau left-right (kiri-kanan), atau perpaduan antara keduanya. Namun formasi seperti ini tidak akan hidup dan berjalan, jika tidak ada benefit (keuntungan), yang berupa bonus. Bentuknya, bisa berupa (1) potongan harga, (2) bonus pembelian langsung, (3) bonus jaringan –istilah lainnya komisi kepemimpinan. Dari ketiga jenis bonus tersebut, jenis bonus ketigalah yang diterapkan di hampir semua bisnis multilevel marketing, baik yang secara langsung menamakan dirinya bisnis MLM ataupun tidak, seperti Gold Quest. Sementara bonus jaringan adalah bonus yang diberikan karena faktor jasa masing-masing member dalam membangun formasi jaringannya. Dengan kata lain, bonus ini diberikan kepada member yang bersangkutan, karena telah berjasa menjualkan produk perusahaan secara tidak langsung. Meski, perusahaan tersebut tidak menyebutkan secara langsung dengan istilah referee (pemakelaran) seperti kasus Gold Quest, —istilah lainnya sponsor, promotor— namun pada dasarnya bonus jaringan seperti ini juga merupakan referee (pemakelaran).

Karena itu, posisi member dalam jaringan MLM ini, tidak lepas dari dua posisi: (1) pembeli langsung, (2) makelar. Disebut pembeli langsung manakala sebagai member, dia melakukan transaksi pembelian secara langsung, baik kepada perusahaan maupun melalui distributor atau pusat stock. Disebut makelar, karena dia telah menjadi perantara —melalui perekrutan yang telah dia lakukan— bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk perusahaan tersebut. Inilah praktek yang terjadi dalam bisnis MLM yang menamakan multilevel marketing, maupun refereal business.

Dari sini, kasus tersebut bisa dikaji berdasarkan dua fakta di atas, yaitu fakta pembelian langsung dan fakta makelar. Dalam prakteknya, pembelian langsung yang dilakukan, disamping mendapatkan bonus langsung, berupa potongan, juga point yang secara akumulatif akan dinominalkan dengan sejumlah uang tertentu. Pada saat yang sama, melalui formasi jaringan yang dibentuknya, orang tersebut bisa mendapatkan bonus tidak langsung. Padahal, bonus yang kedua merupakan bonus yang dihasilkan melalui proses pemakelaran, seperti yang telah dikemukakan.

Hukum Syara’ Seputar Dua Akad dan Makelar:

Dari fakta-fakta umum yang telah dikemukakan di atas, bisa disimpulkan bahwa praktek multilevel marketing tersebut tidak bisa dilepaskan dari dua hukum, bisa salah satunya, atau kedua-duanya sekaligus:

1. Hukum dua akad dalam satu transaksi, atau yang dikenal dengan istilah shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua akad samsarah (pemakelaran).

2. Hukum pemakelaran atas pemakelaran, atau samsarah ‘ala samsarah. Up line atau TCO atau apalah namanya, adalah simsar (makelar), baik bagi pemilik (malik) langsung, atau tidak, yang kemudian memakelari down line di bawahnya, dan selanjutnya down line di bawahnya menjadi makelar bagi down line di bawahnya lagi.

Mengenai kasus shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, telah banyak dinyatakan dalam hadits Nabis Saw, antara lain, sebagai berikut:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra. Yang menyatakan:

“Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”

Dalam hal ini, asy-Syafi’i memberikan keterangan (syarh) terhadap maksud bay’atayn fi bay’ah (dua pembelian dalam satu pembelian), dengan menyatakan:

Jika seseorang mengatakan: “Saya jual budak ini kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi milik saya, sayapun menetapkan milik saya menjadi milik anda.”

Dalam konteks ini, maksud dari bay’atayn fi bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi, akad yang pertama adalah akad jual beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut include dalam satu aqad.

2. Hadits dari al-Bazzar dan Ahmad, dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan:

“Rasululllah Saw telah melarang dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”

Hadits yang senada dikemukan oleh at-Thabrani dalam kitabnya, al-Awsath, dengan redaksi sebagai berikut:

“Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”

Maksud hadits ini sama dengan hadits yang telah dinyatakan dalam point 1 di atas. Dalam hal ini, Rasulullah Saw, dengan tegas melarang praktek dua akad (kesepakatan) dalam satu aqad (kesepakatan).

Adapun praktek pemakelaran secara umum, hukumnya adalah boleh berdasarkan hadits Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani, yang menyatakan:

“Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah, dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural dari simsar, makelar), kemudian Rasulullah Saw keluar menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: ‘Wahai para tujjar (bentuk plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual-beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah, maka bersihkan dengan sedekah’.”

Hanya, yang perlu dipahami adalah fakta pemakelaran yang dinyatakan dalam hadits Rasulullah Saw sebagaimana yang dijelaskan oleh as-Sarakhsi ketika mengemukakan hadits ini adalah:

”Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi (upah atau bonus). Baik untuk menjual maupun membeli.”

Ulama’ penganut Hambali, Muhammad bin Abi al-Fath, dalam kitabnya, al-Mutalli’, telah meyatakan definisi tentang pemakelaran, yang dalam fiqih dikenal dengan samsarah, atau dalal tersebut, seraya menyatakan:

“Jika (seseorang) menunjukkan dalam transaksi jual-beli; dikatakan: saya telah menunjukkan anda pada sesuatu jika anda menunjukkan kepadanya, yaitu jika seorang pembeli menunjukkan kepadanya, maka orang itu adalah simsar (makelar) antara keduanya (pembeli dan penjual), dan juga disebut dalal.”

Dari batasan-batasan tentang pemakelaran di atas, bisa disimpulkan, bahwa pemakelaran itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (malik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (mutawassith). Atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawwith al-mutawwith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelar dan pemakelaran.

Hukum Dua Akad Dan Makelar Dalam Praktek MLM:

Mengenai status MLM, maka dalam hal ini perlu diklasifikasikan berdasarkan fakta masing-masing. Dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, maka bisa disimpulkan:

1. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, yang untuk itu orang yang akan menjadi member tersebut harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member —apapun istilahnya, apakah membeli posisi ataupun yang lain— disertai membeli produk. Pada waktu yang sama, dia menjadi referee (makelar) bagi perusahaan dengan cara merekrut orang, maka praktek MLM seperti ini, jelar termasuk dalam kategori hadits: shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Sebab, dalam hal ini, orang tersebut telah melakukan transaksi jual-beli dengan pemakelaran secara bersama-sama dalam satu akad. Maka, praktek seperti ini jelas diharamkan sebagaimana hadits di atas.

2. Ada MLM yang membuka pendaftaran member, tanpa harus membeli produk, meski untuk itu orang tersebut tetap harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi member. Pada waktu yang sama membership (keanggotaan) tersebut mempunyai dampak diperolehnya bonus (point), baik dari pembelian yang dilakukannya di kemudian hari maupun dari jaringan di bawahnya, maka praktek ini juga termasuk dalam kategori shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Sebab, membership tersebut merupakan bentuk akad, yang mempunyai dampak tertentu. Dampaknya, ketika pada suatu hari dia membeli produk –meski pada saat mendaftar menjadi member tidak melakukan pembelian– dia akan mendapatkan bonus langsung. Pada saat yang sama, ketentuan dalam membership tadi menetapkan bahwa orang tersebut berhak mendapatkan bonus, jika jaringan di bawahnya aktif, meski pada awalnya belum. Bahkan ia akan mendapat bonus (point) karena ia telah mensponsori orang lain untuk menjadi member. Dengan demikian pada saat itu ia menandatangani dua akad yaitu akad membership dan akad samsarah (pemakelaran).

3. Pada saat yang sama, MLM tersebut membuka membership tanpa disertai ketentuan harus membeli produk, maka akad membership seperti ini justru merupakan akad yang tidak dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara, zat dan jasa. Tetapi, akad untuk mendapad jaminan menerima bonus, jika di kemudian hari membeli barang. Kasus ini, persis seperti orang yang mendaftar sebagai anggota asuransi, dengan membayar polis asuransi untuk mendapatkan jaminan P.T. Asuransi. Berbeda dengan orang yang membeli produk dalam jumlah tertentu, kemudian mendapatkan bonus langsung berupa kartu diskon, yang bisa digunakan sebagai alat untuk mendapatkan diskon dalam pembelian selanjutnya. Sebab, dia mendapatkan kartu diskon bukan karena akad untuk mendapatkan jaminan, tetapi akad jual beli terhadap barang. Dari akad jual beli itulah, dia baru mendapatkan bonus. Dan karenanya, MLM seperti ini juga telah melanggar ketentuan akad syar’i, sehingga hukumnya tetap haram.

Ini dilihat dari aspek shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, yang jelas hukumnya haram. Adapun dilihat dari aspek samsarah ‘ala samsarah, maka bisa disimpulkan, semua MLM hampir dipastikan mempraktekkan samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran terhadap pemakelaran). Karena justru inilah yang menjadi kunci bisnis multilevel marketing. Karena itu, dilihat dari aspek samsarah ‘ala samsarah, bisa dikatakan MLM yang ada saat ini tidak ada yang terlepas dari praktek ini. Padahal, sebagaimana yang dijelaskan di atas, praktek samsarah ‘ala samsarah jelas bertentangan dengan praktek samsarah dalam Islam. Maka, dari aspek yang kedua ini, MLM yang ada saat ini, prakteknya jelas telah menyimpang dari syariat islam. Dengan demikian hukumnya haram.

Berdasarkan kedua argumen di atas, Bapak Hafidz ini menyimpulkan bahwa MLM itu haram. Namun, Pak Hafidz melanjutkan, jika ada MLM yang produknya halal, dan dijalankan sesuai dengan syariat Islam; tidak melanggar shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi) atau samsarah ‘ala samsarah (pemakelaran atas pemakelaran). Serta ketentuan hukum syara’ yang lain, maka tentu diperbolehkan. Masalahnya adakah MLM yang demikian?!

Nah, mari kita bandingkan dengan MLM oriflame. Ada dua argumen inti yang digunakan untuk mengharamkan MLM:

  • Hukum dua akad dalam satu transaksi, atau yang dikenal dengan istilah shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah. Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua akad samsarah (pemakelaran).

Pada awal keanggotaan, calon member oriflame membayar biaya pendaftaran dan mendapat starter kit. Di sini berlaku akad jual-beli. Kemudian, member atau konsultan ini dapat bertindak sebagai:

– konsumen yang ingin mendapatkan harga produk lebih murah dan tidak berniat menjual pada pihak lain/mencari downline

– konsumen sekaligus perantara yang menjual produk pada pihak lain (customer) dan mencari downline untuk membangun jaringan (dan tipe inilah yang kebanyakan dipilih)

Untuk tipe pertama, hanya berlaku satu akad, yaitu akad jual-beli. Tetapi untuk tipe kedua telah berlaku dua akad sekaligus, yaitu akad jual-beli dan akad pemakelaran. Oleh karena itu, MLM Oriflame-menurut kesimpulan penulis- serupa dengan MLM kategori dua yang disebutkan Pak Hafidz dalam subbab Hukum Dua Akad dan Makelar dalam MLM di atas.

  • Hukum pemakelaran atas pemakelaran, atau samsarah ‘ala samsarah. Up line adalah simsar (makelar), baik bagi pemilik (malik) langsung, atau tidak, yang kemudian memakelari down line di bawahnya, dan selanjutnya down line di bawahnya menjadi makelar bagi down line di bawahnya lagi.

Sistem Oriflame melarang konsultannya menjadi distributor/stokis, sehingga setiap konsultan membeli produk langsung pada perusahaan atau kantor perwakilannya kemudian menyampaikannya pada pembeli (customer). Dalam kasus ini, konsultan bertindak sebagai ‘makelar murni’. Namun jika konsultan tersebut memiliki downline dan downline tersebut mejadi ‘makelar murni’, maka konsultan tersebut menjadi makelar atas makelar. Demikian pengertian penulis.

Pendapat Kedua: Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No : 75/DSN MUI/VII/2009 tentang Penjualan Langsung Berjenjang Syariah

Definisi:

Penjualan langsung berjenjang adalah cara penjualan barang atau jasa melalui jaringan pemasaran yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha kepada sejumlah perorangan atau badan usaha lainnya secara berturut-turut.

Hukumnya:

Dapat dikategorikan sebagai penjualan langsung berjenjang syariah (namanya juga syariah berarti halal ya) bila memenuhi 12 ketentuan berikut:

1. Ada objek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau jasa

Oriflame memiliki lebih dari lima ratus produk kosmetik dan perawatan tubuh yang diperjualbelikan oleh member-membernya.

2. Barang/jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram

Produk Oriflame murni dibuat dari tumbuh-tumbuhan, madu, dan susu. Sudah mendapat sertifikasi POM juga. Jadi walaupun tak bisa mendapat sertifikasi halal dari MUI (Karena pabriknya tidak berada di Indonesia) kita dapat meyakini kehalalan produk ini.

3. Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung unsur gharar (penipuan), maysir (judi), riba (bunga) , dharar (bahaya) , dzulm (aniaya/merugikan salah satu pihak), dan maksiat

Baik dalam penjualan produk maupun perekrutan member (konsultan), Oriflame selalu menjunjung profesionalitas. Member (konsultan) diwajibkan menjual produk sesuai harga catalog. Saat mengajak prospek ke seminar, konsultan harus menyatakan dengan jelas bahwa ini seminar Oriflame, jadi tidak ada penipuan.

4. Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive mark up) sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh

Untuk sebuah produk impor yang merek dan kualitasnya sudah dikenal luas, harga produk Oriflame termasuk wajar, apalagi Oriflame memang ditujukan bagi kalangan menengah. Silakan bandingkan dengan produk sejenis di mal-mal dan toko online. Kalau saya sempat membandingkan harga produk parfumnya dengan salah satu toko kosmetik online, parfum Oriflame paling mahal tiga ratus ribuan sementara parfum di toko online itu satu jutaan. Hmm.

5. Komisi yang diberikan perusahaan kepada anggota harus berdasarkan pada prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan barang atau jasa dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS

Ada banyak bonus, keuntungan, dan award yang ditawarkan Oriflame. Immediate profit berhubungan langsung dengan volume penjualan member. Sementara Performance Discount berhubungan dengan jumlah poin yang dikumpulkan member dan downline-downlinenya serta level yang dicapai member tersebut. Dalam hal performance discount ini, menurut penulis memang tidak sepenuhnya terkait langsung dengan volume penjualan mengingat besarnya komisi juga tergantung level yang dicapai.

6. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau jasa yang ditetapkan perusahaan

Oriflame telah menetapkan ketentuan yang jelas dan lengkap mengenai level, bonus, dan poin yang bisa didapatkan oleh member Oriflame. Sudah ada training mengenai hal tersebut.

7. Tidak boleh ada komisi/bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan/jasa

Jika member Oriflame tidak mencapai poin tertentu dalam satu periode penjualan, ia tak akan bisa mencairkan komisi/bonusnya. Jadi tidak ada bonus pasif dalam sistem ini.

8. Pemberian komisi/bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’ (daya tarik luar biasa yang menyebabkan orang lalai terhadap kewajibannya demi melakukan hal-hal atau transaksi dalam rangka memperoleh bonus/komisi yang dijanjikan)

Oriflame menawarkan penghasilan, bonus, dan fasilitas mewah bagi membernya, tetapi apakah itu dapat menyebabkan orang lalai atau tidak, menurut penulis hal itu tergantung pribadi masing-masing.

9. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya

Sudah banyak terbukti downline-downline Oriflame dapat melebihi uplinenya baik dari segi level maupun bonus.

10. Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan akidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat, dan lain-lain

Acara seremonial Oriflame mewah dan begitu mengistimewakan mereka yang di panggung. Begitulah yang penulis tangkap dari berita kegiatannya (newsletter) karena penulis sendiri belum pernah menghadirinya.

11. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggota yang direkrutnya

Peran upline adalah membina, mengawasi, membimbing dan membantu dowlinenya.

12. Tidak melakukan kegiatan money game.

Oriflame menerapkan sistem penjualan langsung dan berjejaring, bukan sistem piramida seperti yang banyak dipakai dalam money game. Perbedaan sistem penjualan langsung dan piramida, dapat dibaca di situs APLI dimana Oriflame terdaftar di dalamnya.

Berdasarkan analisis di atas, MLM Oriflame telah memenuhi beberapa syarat PLBS, kecuali syarat kelima dan kesepuluh yang masih meragukan. Mungkin itu sebabnya Oriflame belum dapat menerima sertifikat syariah dari MUI (walaupun penulis kurang tahu apakah Oriflame mengajukan diri atau tidak).

Adapun MLM yang telah mendapat sertifikasi syariah dari MUI antara lain PT Ahad Net Internasional, PT UFO BKB Syariah, PT Exer Indonesia, PT Mitra Permata Mandiri dan PT K-Link Nusantara.

 Pendapat ketiga: Keputusan Fatwa Musyawarah Komisi Fatwa Mui Kota Bandung Nomor : 291/MUI-Kb/E.1/VII Tentang Hukum Bisnis Network Marketing / MLM

Definisi:

Pada kenyataannya ada tiga macam bentuk yg berkaitan dgn bisnis MLM :

  1.        MLM yg tdk menjual produk, biasa disebut money game (permainan uang). Contoh: Pihak MLM menawarkan sebuah sepeda motor merek X hanya dgn menyetor uang Rp. 2.000.000 dgn syarat harus bisa menjaring sebanyak sepuluh orang yang masing-masing harus menyetorkan uang sebesar Rp. 2.000.000 pula. la akan menerima sepeda motor tersebut setelah mampu menjaring sepuluh orang, dan bila tidak, maka uang tersebut hangus. Demikian seterusnya.
  2.        Perusahaan MLM, ialah suatu perusahaan yg menjual produk orang lain dengan sistem MLM, yakni ia membeli sesuatu produk dari pabrik kemudian memasarkannya dgn sistem MLM. Perusahaan MLM ini kadang-kadang mengakibatkan harga menjadi tidak wajar (diatas harga pasar) dan kadang-kadang kabur entah kemana, sehingga banyak yang tidak pernah menerima bonus yang dijanjikan dan jaringan yang paling bawah tidak bisa mengembangkan lagi jaringan.
  3.        Perusahaan yg memasarkan produknya dengan sistem Penjualan Berjenjang (Network Marketing) Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan yg menjual produknya dgn sistem berjenjang, sehingga setiap konsumen di perusahaan tersebut adalah juga seorang distributor. Dimana akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan jumlah jaringan dan omzet yang dicapai sesuai dengan sistem marketing yang disetujui sejak awal. Dengan harga produk yang cukup wajar.

Hukumnya:

Pertama :

MLM yg pertama yaitu MLM yg tdk menjual produk disebut money game (permainan uang) hukumnya haram, karena berupa penipuan yg nyata.

Kedua :

MLM yg kedua yaitu perusahaan MLM yg menjual produk perusahaan orang lain hukumnya boleh, hanya calon konsumen (calon anggota MLM tersebut) harus berhati-hati karena harga barang menjadi tdk wajar, & kadang-kadang bisa bangkrut.

Ketiga :

MLM yg ketiga yaitu sesuatu perusahaan yg memasarkan produknya dgn sistem penjualan berjenjang di atas hukumnya shah / halal. Adanya bonus yg dijanjikan, disamakan dgn ju’alah.

Pertanyaannya, termasuk golongan manakah Oriflame? Oriflame memiliki produk yang diproduksi sendiri, jadi ia tidak termasuk golongan satu atau dua. Sistem bonus dan keuntungan telah ditetapkan dan dijelaskan sejak awal. Harga produknya pun cukup wajar untuk produk impor yang menjaga kualitasnya. Dengan demikian, Oriflame termasuk golongan ketiga yang hukumnya halal.

Lalu, halalkah MLM? Penulis telah menguraikan beberapa pendapat mengenai MLM. Sebagai manusia beragama dan berakal, tentu Anda dapat memutuskan mana yang akan Anda pegang. Bila Anda ingin berhati-hati dan menghindari keragu-raguan, inilah yang dianjurkan bagi kaum muslimin/at sebagaimana yang tertera dalam hadits Rasul SAW Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW dan kesayangannya, dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah SAW (sabdanya):Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.(Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh). Maka sebaiknya Anda mencari bentuk usaha selain MLM. Tetapi untuk yang ingin berbisnis MLM pun tidak masalah bila berpijak pada Fatwa MUI kota Bandung, apalagi bila MLM tersebut dapat memenuhi persyaratan dari DSN MUI. Hal yang sama berlaku bila ingin memilih Oriflame sebagai pilihan bisnis. Hal yang terpenting adalah Anda harus yakin dengan bisnis yang dijalankan, keyakinan yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Sumber:

http://www.Darussunnah.or.id (mengutip dari majalah An-Nashihah volume 14, hal. 12-14)

http://www.mui.or.id

konsultasi.wordpress.com/2007/01/22/hukum-ikut-mlm/

amir.staff.fkip.uns.ac.id/?tag=fatwa-mui

Categories: Bisnis | Tags: , , | 10 Komentar

Navigasi pos

10 thoughts on “MLM, Halalkah?

  1. info nya menarik,lumayan buat bacaan.thanks for share🙂

  2. Berkunjung,,🙂
    MLM menurut saya hukumnya ga jelas jadi termasuk Syubhat, Lebih baik ditinggalkan…

    Salam kenal yaa,, kalo boleh ijin tukar Link,. Ditunggu kunjungan balik n konfirmasinya…

  3. faraziyya

    *ah edis
    *jadi ketauan aku belum baca, lgsg pengen ngomen😀
    eniwei inten, ini blog mw diisi tulisan serius ya *ngelirik postingan pertama🙂
    ah pokoknya, welcome to WP family :-p

  4. *baca caption gambar*
    *baca pengantar*
    *langsung scroll ke bawah*
    teen mau baca tapi puaaanjaaaang….

  5. numpang ninggalin jejak🙂

Komentarmu Sangat Berharga ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: