Difabilitas di Indonesia: Pandangan Seorang Awam

Difabilitas di Indonesia: Pandangan Seorang Awam

Difabilitas di IndonesiaAku tersentak oleh bis yang terhenti tiba-tiba. Lampu merah rupanya. Hilang kantuk, kualihkan pandangan ke jendela yang mempertunjukkan drama kehidupan lampu merah. Lihat, pemeran utama sudah tiba. Seorang kakek kurus berkulit cokelat terbakar matahari sedang berjalan sambil memegang pundak nenek di depannya. Tangan kirinya memegang kaleng, menunggu pengemudi mobil yang merasa iba meletakkan pundi-pundi kehidupan di dalamnya. Sang nenek mengetuk kaca mobil sebuah Avanza hitam mengkilat. Ah, si sopir bahkan tak bersedia membuka jendela, ia hanya melambai tak sabar kepada nenek itu. Miris, aku beralih pada trotoar di seberang jalan. Seorang wanita berusia 30-an sedang duduk di atas beton yang panas itu…kalau itu bisa dikatakan duduk. Innalillahi, separuh tubuh dari pinggang ke bawahnya tak ada. Di depannya wadah recehan diletakkan.

Pemandangan tersebut bukanlah hal yang asing di Indonesia. Penyandang cacat selama ini identik dengan –maaf- pengemis, orang yang perlu dibantu dan dikasihani, atau orang yang kurang produktif. Sebagian penyandang cacat ini bahkan dikucilkan dari pergaulan. Seperti anak tetanggaku. Ia anak yang cukup tampan sebenarnya, hanya sayang ia mengalami autis yang tak ditangani dengan benar. Kami tinggal di kota kecil sehingga sulit menemukan sekolah khusus baginya, di samping mungkin hambatan pada faktor biaya juga. Jadilah ia dimasukkan ke sekolah biasa. Ia tak bisa mengikuti pelajaran secepat teman-temannya sehingga ia sering diganggu. Ia juga tak punya teman di sekolah. Ibunya mengaku pasrah dengan keadaan anaknya ini. Sang ibu hanya berharap saat ia beranjak tua, anaknya ini bisa dijaga oleh adiknya yang normal. Duh.

Paradigma negatif terhadap penyandang cacat ini –gawatnya- didukung secara tak langsung oleh pemerintah. Selama ini pemerintah cenderung memberi bantuan sosial pada masyarakat ini. Seakan mereka hanya bisa menerima.

DiskriminasiMungkin karena itulah, masyarakat difabel lebih suka menggunakan istilah ‘difabilitas’ dan ‘difabel’ (different ability, differently abled people) daripada istilah ‘cacat’ dan ‘penyandang cacat’ yang cenderung berkonotasi negatif itu. Ya, difabel adalah orang memiliki kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Karena berbeda, difabel perlu fasilitas yang berbeda dari orang biasa. Perlu penyesuaian dan penambahan pelayanan bagi masyarakat difabel. Namun bukan berarti karena mereka berbeda, kita yang orang biasa berhak merendahkan, mengucilkan, atau mendiskriminasikan mereka.

Kelompok manusia cenderung bersikap negatif terhadap kaum yang memiliki ciri yang berbeda dari kaum mereka sendiri. Kaum pria suku Arab cenderung mendiskriminasi kaum wanita karena fisik mereka berbeda. Keluarnya darah dari rahim wanita, misalnya, dianggap sesuatu yang kotor. Para ayah mendapat malu bila anak yang lahir bergender wanita. Penjajah Eropa sebelum abad 20 menganggap suku Asia dan Afrika sebagai budak karena budaya dan warna kulit mereka berbeda. Hal ini juga yang cenderung terjadi pada masyarakat Indonesia. Kita.

Manusia Indonesia dilahirkan untuk berakrab dengan perbedaan-suku,kulit,agama. Tentu takkan sulit bila kita membuka hati terhadap satu perbedaan lagi. Difabel bukan kekurangan, ia hanya berarti perbedaan kemampuan dan sikap dalam menghadapi sesuatu. Saya bisa mengetik di komputer. Individu dengan tunanetra juga bisa, dengan tambahan software suara. Saya bisa naik tangga. Individu dengan kursi roda juga bisa, dengan jalur khusus kursi roda. Albert Einstein ilmuwan jenius, Stephen Hawking1 juga.

Nah, sudah saatnya kita hentikan diskriminasi kita pada masyarakat difabel. Merasa tidak pernah mendiskriminasi mereka? Aku juga dulu tidak merasa. Coba deh kita tengok dulu, diskriminasi seperti apa yang biasanya dialami masyarakat difabel:

  • Lapangan Pekerjaan

Salah satu persyaratan CPNS: Sehat jasmani dan rohani berdasarkan keterangan Dokter Rumah Sakit Pemerintah/Swasta. Tidak hanya CPNS, banyak perusahaan juga mencantumkan persyaratan tersebut dalam perekrutan mereka. Padahal pemerintah dan DPR sudah menerbitkan UU tentang Penyandang Cacat No. 4 Tahun 1997. Khusus mengenai aksebilitas kerja, UU ini bahkan menentukan bahwa perusahaan negara dan swasta memberi kesempatan kepada penyandang cacat untuk bekerja. Hal ini tertuang dalam Pasal 14 UU Penyandang Cacat. Tambahan lagi pada bagian penjelasan Pasal tersebut ditentukan mengenai perusahaan harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 orang penyandang cacat untuk tiap 100 karyawan. Sayangnya tak ada pengawasan yang efektif bagi perusahaan yang melanggarnya. Alhasil, UU ini bagaikan pajangan saja.

  • Fasilitas Bangunan Publik

Cobalah lihat fasilitas angkutan umum, WC umum, restoran, kantor pemerintah, museum, dan bangunan-bangunan publik lainnya. Berapa banyak yang memiliki fasilitas khusus bagi orang difabel?

  • Jaminan kesehatan

Para difabel mempunyai kebutuhan khusus atas kesehatan akibat kondisinya yang lebih rentan sakit atau terluka dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Sayangnya baru segelintir difabel saja yang mendapat jaminan kesehatan dan jaminan hidup dari pemerintah.

  • Pendidikan

Sebagai contoh, berdasarkan data yang dihimpun dari Forum Sukarelawan Pendidikan Luar Biasa Jawa Barat pada 2010 terungkap dari 120 ribu penyandang cacat di Jabar, terdapat 51 ribu penyandang cacat usia sekolah. Namun dari 51 ribu, hanya 13 ribu orang yang mengenyam pendidikan. Minimnya jumlah Sekolah Luar Biasa(SLB) dan tidak siapnya infrastruktur sekolah umum untuk menerima murid penyandang cacat menjadi kendala. Idealnya setiap kecamatan terdapat satu sekolah SLB. Padahal perangkat hukum untuk melindungi penyandang cacat telah ada hingga peraturan daerah.

Bentuk diskriminasi yang paling nyata kita lakukan adalah: membiarkan semua hal di atas terjadi! Padahal pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat untuk mewujudkan kesetaraan hak dan fasilitas bagi difabel ini. Kita bisa berpartisipasi langsung misalnya dengan membangun tempat usaha yang ramah bagi difabel jika kita adalah pelaku usaha. Atau memberikan sumbangan/bantuan pada YPAC (Yayasan Pendidikan Anak Cacat) yang telah ada di banyak wilayah di Indonesia. Atau yang lebih sederhana: bersikap normal terhadap difabel. Tidak perlu mengasihani mereka karena yang dibutuhkan bukan rasa kasihan, tetapi kesetaraan hak dan kesempatan bagi mereka.

Kabar baik, di bulan Oktober kemarin DPR telah meratifikasi Undang-undang Konvensi Hak Penyandang Disabilitas. Dengan UU ini, Indonesia telah mengukuhkan diri sebagai negara yang berorientasi pada perlindungan hak-hak asasi difabel termasuk hak partisipasi politik. UU ini dapat menyempurnakan dan melancarkan implementasi UU 4/1997 yang cenderung berbentuk pelayanan/charity saja. Mari kita awasi bersama, adakah kedua UU ini dapat diimplementasikan dengan baik??

1 ahli fisika teoretis yang mengalami kelumpuhan karena sklerosis lateral amiotrofik

Referensi: http://www.who.int, id.wikipedia.org, nasional.vivanews.com/news/read/151489-diskriminasi__penyandang_cacat_sulit_sekolah, www.kbr68h.com/feature/laporan-khusus/14014-uu-konvensi-hak-penyandang-disabilitas-solusi-atau-mimpi-

Alhamdulillah, tulisan ini terpilih menjadi pemenang 1 di lomba menulis Komunitas Blogger Bengawan, Solo. Bener2 tak disangka. Terima kasih atas apresiasi juri. Semoga semua artikel yang telah dibuat untuk lomba dapat bermanfaat, minimal bagi penulisnya 🙂

Pengumuman pemenang ada di link:
http://bengawan.org/2011/12/dua-lomba-blogging-bengawan/comment-page-1/#comment-3437

Seandainya Saya Anggota DPD RI

Seandainya Saya Anggota DPD RI

Seandainya saya terpilih menjadi anggota DPD RI,  terdapat sebuah action plan yang akan saya terapkan. Action plan tersebut dapat dirangkum dalam diagram berikut.

Action Plan DPD
Action Plan Seandainya Saya Anggota DPD

Peneguhan Pribadi

Peneguhan bahwa Anggota DPD Adalah Pelayan Masyarakat. Seorang pelayan akan mengutamakan kepentingan ‘majikan’ (baca: masyarakat) di atas kepentingan pribadinya. Seorang pelayan juga tak akan bergaya hidup lebih mewah dari majikannya. Misalnya, tak perlu memakai mobil dinas dengan penjagaan polisi. Membaur saja di angkutan umum sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat. Gaya hidup sederhana dapat mencegah godaan korupsi, menjaga keberpihakan pada masyarakat, sekaligus menjadi teladan bagi kalangan wakil rakyat lainnya.

Pengumpulan Aspirasi

Bola tak bisa ditunggu, ia perlu dijemput. Diperlukan kerja sama dengan LSM, media lokal, dan utamanya pemerintah daerah setempat untuk menyelami aspirasi masyarakat, membentuk, dan mempraktekkan solusi atas permasalahan yang membelit daerah. Kerja sama dengan LSM dapat berbentuk diskusi untuk mencari solusi atas permasalahan daerah. Kegiatan ini kemudian dipublikasikan di media cetak dan elektronik lokal. Rekan-rekan dari Pemda dan DPRD kemudian dapat bekerja sama untuk melaksanakan solusi yang tercetus dari diskusi tersebut, terutama dari sisi birokrasi dan legislasinya. Semua kerja sama ini dipusatkan di tiap-tiap rumah aspirasi di kabupaten/kotamadya daerah pemilihan.

Selama ini anggota DPD kurang dikenal masyarakat. Dalam hal ini, saya ingin mencontoh Mario Teguh dan Dahlan Iskan. Mario Teguh memiliki website yang berisi pemikiran dan pengajarannya, menjadi tempat konsultasi bagi masyarakat, serta membentuk komunitas yang disebut MTSuperClub. Sedangkan Dahlan Iskan menyampaikan pemikiran dan kegiatannya dalam blognya. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui langkah-langkah kerja dan pengalamannya sebagai Menteri BUMN. Website yang saya (dan staf) kelola akan menginformasikan pemikiran, gagasan, serta kegiatan dan langkah kerja saya selaku anggota DPD. Tak ketinggalan juga menjadi wadah penampungan aspirasi masyarakat secara online. Pengelolaan web ini akan dilakukan sejalan dengan pengisian blog yang disediakan oleh website resmi DPD, dpd.go.id/weblog. Saya harus populer bila ingin menjalankan fungsi pelayanan dengan baik.

Perjuangan Perwujudan Aspirasi

Masyarakat memiliki potensi untuk menyelesaikan berbagai permasalahannya sendiri. Sebagai contoh, pengaduan atas minimnya lapangan kerja di daerah dapat diselesaikan oleh masyarakat (pengusaha) di daerah tersebut. Salah satu caranya ialah dengan mengadakan lomba bagi para pengusaha UKM untuk mendorong inovasi dalam pemanfaatan potensi SDA dan SDM daerah dalam usahanya. Pemenang akan mendapatkan piala bergilir, tambahan dana modal, dan kesempatan untuk mendapatkan investor. Panitianya dibentuk dari putra-putri daerah sementara dana lomba dihimpun dari 50% gaji saya sebagai anggota DPD, sponsor pemerintah, dan CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan. Melalui lomba ini, saya juga dapat menjalankan fungsi pengawasan pelaksanaan UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan UU PT No.40 Tahun 2007. Fungsi ini adalah satu dari tiga fungsi pokok anggota DPD, yaitu fungsi legislasi, pertimbangan, dan pengawasan.

Selain mengawasi lembaga lain, saya dan rekan-rekan juga harus mengawasi diri sendiri! Terutama tentang proyek Pembangunan Gedung DPD di 33 Provinsi. Saya dan rekan-rekan anggota DPD harus memastikan transparansi proyek ini. Jumlah kebutuhan, alokasi, dan penggunaan anggaran, desain bangunan, dan pemenang tender proyek harus dipublikasikan minimal di website sesuai KIP 14 Tahun 2008. DPD harus buktikan dirinya sebagai lembaga yang bersih dan berintegritas. Jayalah DPD RI!

Iblis Lebih Berhak Masuk Surga (???)

Iblis Lebih Berhak Masuk Surga (???)

Akses menuju surga (sumber: iasos.com)
Akses menuju surga (sumber: iasos.com)

Tiba-tiba, teringat aku pada kata-kata yang pernah terluncur dari presenter Damai Indonesiaku (TVOne), kurang lebih seperti ini:

” jika untuk ke surga hanya butuh ‘keimanan’, maka iblis jauh lebih berhak masuk surga daripada kita!

Mengapa?

Karena setan percaya akan keberadaan Allah SWT, ia bahkan pernah bertemu langsung dengan-Nya”

Lalu, tanyaku, apa yang tak dimiliki iblis, yang membuat aksesnya menuju surga diblokir selamanya?

ternyata itu adalah…KETAKWAAN.

Menurut Imam Hasan Al-Bashri, taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, serta menunaikan apa yang diwajibkan-Nya.

Zztt, itu berarti, kita mesti memiliki ilmu untuk mengetahui apa saja larangan dan perintah-Nya, memiliki keistiqomahan mengamalkan perintah-Nya, dan memiliki keteguhan hati terhadap godaan untuk melanggar syariat-Nya. Sungguh bukan perkara mudah.

Definisi kata takwa yang lebih general dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab.

Suatu ketika sahabat Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah takwa itu.

Ubay menjawab,“Pernahkah kamu melalui jalan berduri?”
Umar menjawab,“Pernah.”
Ubay menyambung,“Lalu apa yang kamu lakukan?”
Umar menjawab,“Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.”

Maka Ubay berkata,
“Maka demikian pulalah takwa.”

Lalu, sudahkah aku berhak mengakses surga (baca: bertakwa) ???

 

Referensi: uswahislam.blogspot.com/2010/10/definisi-takwa.html , tanbihun.com/kajian/al-quran/ciri-pribadi-taqwa/

Cinta Itu …

Cinta Itu …

GA 5th AnniversaryDear diary,

Kemarin mbak Zoothera bertanya padaku: apa itu cinta? Sungguh, tak bisa aku langsung menjawabnya. Sebab tak mudah mendefinisikan cinta: ia punya terlalu banyak makna. Tapi diary, sekarang aku sudah punya salah satu jawabannya. Bagiku, cinta itu… cinta sejati itu… layaknya rasa Tuhan pada hamba-Nya. Ia mencipta, semata untuk kebaikan makhluk yang dicipta-Nya. Ia memberi, tanpa harap akan mendapat. Ia melindungi, tanpa butuh disyukuri. Cinta Tuhan mewajibkan hamba-Nya bersyukur, itu karena ada seribu kebaikan yang ditawarkan. Bahkan ketika cinta Tuhan membuat hamba-Nya menangis, itu karena ada ketegaran yang sedang diujikan. Betapa tulusnya, murninya. Oh, bukan, cinta seperti itu bukanlah utopia. Lihatlah diary, betapa ibu telah memiliki cinta sejati itu sejak lama. Dan aku, sebagai anak perempuannya, telah bertekad untuk membangun sejati cinta—pada Tuhan, lalu disalurkan pada keluarga dan pendampingku nanti.

Ya, pendamping. Manusia yang akan menjadi curahan pengabdianku sebagai bentuk cinta pada-Nya. Karena itulah, aku hanya ingin berada di samping orang yang mencintai-Nya. Saleh, alim kata manusia. Dewasa dan mampu membimbingku membangun keluarga samara, menurut rekomendasi ibu. Enak dipandang, suara hatiku yang bilang. Ah, diary, harapanku ini bukan utopis kan?

Tulisan ini kuikutsertakan di acara 5th Anniversary Giveaway: Ce.I.eN.Te.A yang diselenggarakan oleh mbak Zoothera sebagai bagian dari ulang tahun pernikahan ke-5 mbak Zoothera dan suami. Semoga pernikahannya tetap langgeng dan penuh berkah baik di dunia maupun di firdaus nanti ;-).

Tips Sukses Reading Comprehension USM STAN

Tips Sukses Reading Comprehension USM STAN

freepostmaker.comDua periode jadi pengajar Bahasa Inggris bimbel USM STAN, saya menemukan kecenderungan pada sebagian besar peserta bimbel: mengabaikan soal Reading Comprehension saat mengerjakan (simulasi) soal USM.

Padahal, jenis soal ini mencakup 1/3 dari 60 soal Bahasa Inggris yang diujikan. Ingat, USM ini mensyaratkan jawaban benar minimal 1/3 jumlah soal agar tak mendapat nilai mati. Berarti, jika tak ingin mengerjakan Reading Comprehension, peserta harus menjawab benar minimal 20 soal dari 40 soal Structure & Written Expression dan Error Recognition. Mungkinkah? Mungkin saja! Pasti banyak yang mampu meraih poin di atas nilai mati hanya dengan 40 soal yang tersisa. Tetapi kemudian, saat nilai puluhan ribu peserta yang lolos nilai mati diseleksi menurut ranking poin, ia akan mengalami kerugian nilai karena sudah—dengan sadar—membuang 1/3 peluang menambah poin!

Saya yakin, tak ada peserta waras yang mau membuang peluang di hadapan mata. Yang diperlukan adalah cara menaklukkan tantangan, bukan menghindarinya! Lalu, bagaimana cara menaklukkannya?? Here are some tips:

1. Kenali dulu penyebabmu menghindari soal Reading ini.

Apakah karena banyak orang bilang ini susah? Cobalah sendiri dulu. Untuk orang yang senang membaca, soal jenis ini malah menyenangkan lho. Sambil ujian bisa mendapat pengetahuan baru. Lalu, jika sudah mencoba tapi tak mengerti teks itu ngomongin apa? Banyak kata-kata susah? Coba liat tips no.2. Atau biasanya kamu menghabiskan terlalu lama berkutat di soal Reading? Liat poin-poin selanjutnya deh.

2. Baca dan Terjemahkan

Kumpulkan soal USM tahun-tahun sebelumnya. Soal SNMPTN dan TOEFL juga boleh. Pokoknya yang ada teks Bahasa Inggrisnya. Jangan lupa kamus mesti tergeletak manis di hati.. eh di dekatmu ya. Pilihlah teks yang kelihatannya paling mudah lalu mulailah membaca. Kata-kata yang susah ditandain dulu saja. Kalau sudah selesai, terjemahkan kata-kata yang sulit itu (apa? hampir semuanya sulit? kwaciaan :P) lalu tulis ulang teks tersebut dalam bahasa Indonesia. Sedemikian rupa sehingga  tidak terlihat seperti habis diterjemahkan. Dengan cara ini, kamu akan memahami isi teks secara lebih menyeluruh,  memperkaya kosa kata (vocabulary), dan terbiasa dengan gaya penggunaan kata-kata sulit. Misalnya nih, kata see, look at, dan observe. See digunakan untuk ‘melihat sekilas’, look at untuk ‘melihat dengan penuh perhatian’ sementara observe cenderung ‘mengamati, meneliti’. Nah lho, padahal di kamus arti ketiga kata itu sama: ‘melihat’.

3. Baca (sekilas) teksnya dulu, baru baca soalnya.

Berlawanan dengan yang biasanya diajarkan di bimbel, menurut saya lebih mudah membaca dulu teksnya. Dengan membaca dulu, kamu dapat menguasai isi teks secara keseluruhan. Selain itu, saat mengerjakan soal, dirimu akan tahu dimana mencarinya (kira-kira di paragraf mana atau kalimat yang mana) juga akan punya dugaan awal tentang jawabannya.

4. Dilihat dari soal USM empat tahun terakhir, soal Reading berkisar pada enam poin ini:

  • Main Idea (gagasan utama)

Kita dapat diminta menemukan main idea teks, paragraph tertentu, ataupun judul yang tepat bagi teks tersebut. Temukan main idea dengan membaca kalimat awal dan akhir tiap paragraf.

  • Refer to…

Contohnya “the pronoun ‘it’ in line 4 refers to …”. Jika menemukan soal seperti ini, segera perhatikan kalimat di mana pronoun itu berada. Perhatikan juga kalimat sebelumnya. Biasanya subjek yang ditanyakan ada di dua lokasi itu.

  • Sinonim

Misalnya “The word meticulous in line 19 is closest in meaning to …” Saat frasa ‘is closest in meaning to …’ muncul, saat itulah kamu harus mengerahkan daya analisismu! Carilah kalimat tempat kata itu berada lalu pahami maksud/konteks kalimat tersebut. Lihat juga kalimat sebelumnya bila dapat membantu pemahamanmu. Kemudian, pilihlah di antara empat pilihan ganda yang tersedia, mana yang paling cocok menggantikan kata yang ditanyakan tanpa mengubah maksud kalimat? Nah, kalo kata-kata di pilihan ganda juga tak ada yang dikenal? Hmm.. makanya perkaya vocab mu.. atau kalo dah kepepet, andalkan nalurimu! (serius, ini bisa berhasil di saya)

  • Infer

Pada soal ini kita diminta menduga atau menyimpulkan suatu hal berdasarkan keterangan-keterangan dalam teks. Ini butuh pemahaman dan ketelitian terhadap informasi yang disediakan. Hati-hati, bisa mengecoh. Oya, kalo diminta memperkirakan topik paragraph sebelum/sesudah teks tersebut, perhatikan kalimat penghubung antar paragraph yang terdapat di kalimat pertama atau terakhir teks tersebut.

  • Unstated Sentence

Kita diminta mencari kalimat yang disebutkan/tidak disebutkan dalam teks. Biasanya di soal ada kata-kata “Not mentioned” atau “incorrect” atau “correct, except…” Ini sih tinggal dicocokin aja ke bacaannya.

  • Detailed question

Ditanya tentang informasi detail dalam teks tersebut. Perlu meninjau kalimat/paragraph tertentu bacaannya juga.

5. Latihan latihan dan latihan!

Tak bisa hanya dengan satu atau dua kali mengerjakan soal, kita jadi lancar mengerjakan soal Reading ini. Berlatih terus, perkaya vocab,asah nalurimu. Sebuah pedang tak akan jadi tajam hanya dengan beberapa kali tempaan! Jangan lupa, pasang target tiap kali berlatih. Misal,di latihan ke-25 ini saya akan mengerjakan Reading Comprehension dengan

Waktu                   : 25 menit

Jumlah benar     : 19 soal

6. Pertajam Nalurimu

Kalau sudah sering latihan… otak akan terbiasa… dan seakan nalurimulah yang bekerja..

Sekian saja tips yang terpikir saat ini. Bagi teman-teman yang ingin menambahkan atau memberikan kritik dan saran, silakan dishare..

Semoga sukses! ^-^

Sampingan

Dan Ujian Itu …

en.wikipedia.org

en.wikipedia.org
Relieved ~~

Telah kulewati.

Horee 😀

Udah 4 hari yang lalu sih. Cuma mood nulisnya baru ada sekarang. Hahai.

Terima kasih Arigatou Gozaimasu Hatur nuhun Kamsa Hamnida buat smua komen dan doa teman2 di curcol Galau Psikotes… sangat berarti bagiku :3

Oiyah oiyah mu sharing nih, siapa tau ada yang penasaran isi psikotesnya apa aja, here are the list:

a. Pola

Misalnya di soal ada pasangan gambar {} dan }. Kemudian ada gambar (), maka pasangan gambarnya?? Yak tepat sekali! Jawabannya …*. Mudah bukan? Asal cepet aja mikirnya.

b. Sinonim-Antonim

Misal di soal ada 4 pilihan kata: a. sumbang b.sambang c. merdu d. perdu . Manakah yang merupakan pasangan sinonim atau antonim kata?? Jawabannya adalah …**

c. Kecerdasan Emosional

Ada sekitar 80 pernyataan yang kita nilai sesuai atau tidaknya dengan diri kita. Misal pernyataan “Saya mampu mengungkapkan perasaan marah saya”. Beri nilai 1(sangat sesuai), 2(sesuai), 3(kurang sesuai), 4(tidak sesuai), atau 5(sangat tidak sesuai). Kalo saya sih pilih 3. Soalnya kalo perasaaan marah diungkapkan jadinya malah lebih marah lagi, takutnya yang dimarahin juga jadi balik marah. Itu saya siih… Kalo kamu?

d. Biodata Diri

Ini kayak persyaratan masuk organisasi atau kepanitiaan kampus. Kita diminta mengisi data diri, kelebihan, kekurangan, kisah kesuksesan dan kisah kegagalan kita. Herannya saya malah lebih lancar nyeritain kisah gagal saya. Mungkin karena saya lebih sering mengeluh tentang kegagalan daripada bersyukur akan keberhasilan. Ckckck. Mesti diperbaiki nih.

e. Logical-Clerical

Misal di soalnya begini: nm nM NM Nm mn. Trus di pilihan ada huruf Nm nm nM mn NM juga. Di soal kan huruf NM yang digarisbawahi, maka kita harus menyilang huruf NM juga di pilihannya. Mudah, tapi mesti cepat karena soalnya banyak sementara waktunya sedikit. Saya (dan teman-teman yang saya tanyai) ga selesai. Hiks.

f. Tes Pauli (Koran)

Kertas sebesar koran (tabloid deng) penuh berisi angka. Tiap 2 angka yang berdekatan mesti dijumlah. Ada yang nambah kertas lho. Padahal deretan angkanya ada di 2 sisi kertas (bolak-balik).

g. DAM (Draw A Man)

Enggak, saya ga menggambar anak kecil seperti di gambar latihan itu. Eh keliatan ga sih kalo itu anak kecil? Hhe.

h. WARTEGG

Tersedia 8 kotak yang berisi titik, garis lengkung, dan lain-lain yang harus kita lanjutkan menjadi sebuah gambar yang lalu diberi judul dan dinomori sesuai urutan gambar kita. Lengkap dengan rating  gambar “paling sulit”, “paling mudah”, “paling disukai”, dan “paling tidak disukai”. Menurut tipsanda.com, urutan gambar kita menunjukkan seberapa teraturnya kita. Disarankan menggambar dengan kombinasi sesuai nomor dan acak, misal urutan 1-2-3-4-8-7-6-5. Biar dinilainya ga terlalu konservatif, tapi juga ga terlalu cenderung ‘breaking the law’. Untuk pria disarankan tidak menggambar mulai dari nomor 5 (yang ada garis kayak T miring), bisa-bisa dinilai ada kelainan orientasi seksual. 😉

Hem, tapi pada prakteknya urutan gambar saya tetap seenak udel, hoho.

i. BAUM (Menggambar Pohon)

Saking putus asanya ngegambar ranting dan cabang pohon yang (harusnya) banyak, saya kasih keterangan aja di gambarnya “Pohon Mangga; Baru Ditebang”. 😀

Tiga tes terakhir cuma dikasih waktu total 15 menit. Okeh. Mu bikin saya panik rupanya. Lupa pula apa yang kemaren digambar pas latihan. Dasar Iradat Consultant.

Ya sudahlah, pokoknya tes nya udah selesai. Yang telah terjadi, telah jadi masa lalu. Dan masa lalu adalah hal yang paling jauh, tak bisa lagi dijamah.

Ga kerasa loh ternyata 4,5 jam berlalu untuk mengerjakan soal2 psikotesnya.

Dan ga kerasa juga udah 2 jam nulis postingan ini.

Yo wis mari kita publish!

*Jawaban Pola: )
**Jawaban Sinonim-Antonim: a dan c

😉

Galau Psikotes

Galau Psikotes

Anak Pohon

Sepuluh Desember akan menjadi hari bersejarah bagi lulusan STAN 2011! Bagaimana tidak, di hari Sabtu itu kami akan mengikuti psikotes yang diselenggarakan Kementerian Keuangan. Dua ribuan lulusan akan mengerjakan psikotes secara bersamaan di kampus dan pusdiklat BPPK Kemenkeu seluruh Indonesia. Deuh, semua lulusan galau dibuatnya—lebay, hhe. Soalnya eh soalnya, pengadaan tes yang bersamaan ini baru pertama kali diadakan sepanjang sejarah lulusan STAN.

Tidak ada kejelasan informasi, apa sebenarnya tujuan tes ini. Ada dua pendapat mayoritas: yang pertama berpendapat tes ini diadakan untuk melengkapi tahapan tes CPNS yang mesti kami jalani. Jadi kan, tes CPNS itu mestinya ada 4 tahap: seleksi administrasi, tes akademik, psikotes, dan wawancara. Sementara anak STAN angkatan kami baru menjalani USM yang notabene termasuk tes akademik. Nah, pas udah lulus, baru deh tes yang lainnya dilengkapi. Pendapat kedua mengatakan bahwa sebenarnya Biro SDM Kemenkeu ingin menentukan penempatan instansi lewat psikotes ini. Secaraa (bahasa taun mana nih) di tahun-tahun sebelumnya Biro SDM menentukan penempatan instansi lulusan STAN dengan metode ‘abrakadabra’. Abrakadabra! Lulusan spes Bea Cukai ditempatkan di Badan Kebijakan Fiskal. Abrakadabra! Lulusan spes Pajak Bumi dan Bangunan ditempatkan di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Nyambungnya dimana coba? Hoho..

Mengapa begitu dipergalaukan? Karena jika pendapat pertama yang benar, berarti ada kemungkinan kami tidak lulus menjadi CPNS! Artinya ada kemungkinan kami harus mengembalikan uang pendidikan DIII sebesar 30 juta rupiah (masih untung ga pake dolar). Ibaratnya sudah tak dapat kerja, masih harus bayar utang -_-a. Nah, jika pendapat kedua yang benar, maka psikotes ini akan jadi pertarungan penentuan nasib apakah akan ditempatkan di instansi basah (suka kena banjir, Jakarta misalnya) atau instansi kaya (kaya akan kantor cabang, di Papua contohnya). Jadi intinya? Kami GALAU! Haha…

Tenaang, galaunya positif ko. Di grup fb PSAK (grupnya lulusan spes Akuntansi) orang-orang galau ini ramai-ramai memposting link tips en trik ngerjain psikotes plus contoh-contoh soalnya. Bahkan sampe cara penilaiannya. Walaupun ada yang berpendapat, tak baik tes seperti ini disiasati, tapi tak ada prajurit yang berperang tanpa persiapan bukan?

Seperti umumnya psikotes perekrutan karyawan, tampaknya tes kami akan mencakup Draw A Man test (menggambar manusia beserta profesinya), BAUM test (menggambar pohon berkambium, bercabang, dan berbuah), juga WARTEGG test (menggambar dari titik dan garis yang tersedia dalam 8 kotak). Menggambar! Menggambar? Hemm,, kalo disuruh menggambar.. saya.. ga pede T-T. Pohon itu kaya gimana pula? Mau gambar orang kaya apa? Gimana kalo ntar blank?? Daripada galau, mending latihan dulu deh. Mau liat hasil latihan saya? Engga? Ga papa, mau ga mau kamu pasti liat juga gambar di samping ko. Hihihi.

Eksotis kaan? Hho.. coba, gmana kepribadian saya berdasarkan gambar itu??

Well, apapun hasilnya, we’ll give our best 🙂 Soo,, doakan kami yah. Semoga dilancarkan en pengumuman hasilnya tanggal 23 Desember nanti akan menggembirakan.

Aaa….

min 😉