Difabilitas di Indonesia: Pandangan Seorang Awam

Difabilitas di IndonesiaAku tersentak oleh bis yang terhenti tiba-tiba. Lampu merah rupanya. Hilang kantuk, kualihkan pandangan ke jendela yang mempertunjukkan drama kehidupan lampu merah. Lihat, pemeran utama sudah tiba. Seorang kakek kurus berkulit cokelat terbakar matahari sedang berjalan sambil memegang pundak nenek di depannya. Tangan kirinya memegang kaleng, menunggu pengemudi mobil yang merasa iba meletakkan pundi-pundi kehidupan di dalamnya. Sang nenek mengetuk kaca mobil sebuah Avanza hitam mengkilat. Ah, si sopir bahkan tak bersedia membuka jendela, ia hanya melambai tak sabar kepada nenek itu. Miris, aku beralih pada trotoar di seberang jalan. Seorang wanita berusia 30-an sedang duduk di atas beton yang panas itu…kalau itu bisa dikatakan duduk. Innalillahi, separuh tubuh dari pinggang ke bawahnya tak ada. Di depannya wadah recehan diletakkan.

Pemandangan tersebut bukanlah hal yang asing di Indonesia. Penyandang cacat selama ini identik dengan –maaf- pengemis, orang yang perlu dibantu dan dikasihani, atau orang yang kurang produktif. Sebagian penyandang cacat ini bahkan dikucilkan dari pergaulan. Seperti anak tetanggaku. Ia anak yang cukup tampan sebenarnya, hanya sayang ia mengalami autis yang tak ditangani dengan benar. Kami tinggal di kota kecil sehingga sulit menemukan sekolah khusus baginya, di samping mungkin hambatan pada faktor biaya juga. Jadilah ia dimasukkan ke sekolah biasa. Ia tak bisa mengikuti pelajaran secepat teman-temannya sehingga ia sering diganggu. Ia juga tak punya teman di sekolah. Ibunya mengaku pasrah dengan keadaan anaknya ini. Sang ibu hanya berharap saat ia beranjak tua, anaknya ini bisa dijaga oleh adiknya yang normal. Duh.

Paradigma negatif terhadap penyandang cacat ini –gawatnya- didukung secara tak langsung oleh pemerintah. Selama ini pemerintah cenderung memberi bantuan sosial pada masyarakat ini. Seakan mereka hanya bisa menerima.

DiskriminasiMungkin karena itulah, masyarakat difabel lebih suka menggunakan istilah ‘difabilitas’ dan ‘difabel’ (different ability, differently abled people) daripada istilah ‘cacat’ dan ‘penyandang cacat’ yang cenderung berkonotasi negatif itu. Ya, difabel adalah orang memiliki kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Karena berbeda, difabel perlu fasilitas yang berbeda dari orang biasa. Perlu penyesuaian dan penambahan pelayanan bagi masyarakat difabel. Namun bukan berarti karena mereka berbeda, kita yang orang biasa berhak merendahkan, mengucilkan, atau mendiskriminasikan mereka.

Kelompok manusia cenderung bersikap negatif terhadap kaum yang memiliki ciri yang berbeda dari kaum mereka sendiri. Kaum pria suku Arab cenderung mendiskriminasi kaum wanita karena fisik mereka berbeda. Keluarnya darah dari rahim wanita, misalnya, dianggap sesuatu yang kotor. Para ayah mendapat malu bila anak yang lahir bergender wanita. Penjajah Eropa sebelum abad 20 menganggap suku Asia dan Afrika sebagai budak karena budaya dan warna kulit mereka berbeda. Hal ini juga yang cenderung terjadi pada masyarakat Indonesia. Kita.

Manusia Indonesia dilahirkan untuk berakrab dengan perbedaan-suku,kulit,agama. Tentu takkan sulit bila kita membuka hati terhadap satu perbedaan lagi. Difabel bukan kekurangan, ia hanya berarti perbedaan kemampuan dan sikap dalam menghadapi sesuatu. Saya bisa mengetik di komputer. Individu dengan tunanetra juga bisa, dengan tambahan software suara. Saya bisa naik tangga. Individu dengan kursi roda juga bisa, dengan jalur khusus kursi roda. Albert Einstein ilmuwan jenius, Stephen Hawking1 juga.

Nah, sudah saatnya kita hentikan diskriminasi kita pada masyarakat difabel. Merasa tidak pernah mendiskriminasi mereka? Aku juga dulu tidak merasa. Coba deh kita tengok dulu, diskriminasi seperti apa yang biasanya dialami masyarakat difabel:

  • Lapangan Pekerjaan

Salah satu persyaratan CPNS: Sehat jasmani dan rohani berdasarkan keterangan Dokter Rumah Sakit Pemerintah/Swasta. Tidak hanya CPNS, banyak perusahaan juga mencantumkan persyaratan tersebut dalam perekrutan mereka. Padahal pemerintah dan DPR sudah menerbitkan UU tentang Penyandang Cacat No. 4 Tahun 1997. Khusus mengenai aksebilitas kerja, UU ini bahkan menentukan bahwa perusahaan negara dan swasta memberi kesempatan kepada penyandang cacat untuk bekerja. Hal ini tertuang dalam Pasal 14 UU Penyandang Cacat. Tambahan lagi pada bagian penjelasan Pasal tersebut ditentukan mengenai perusahaan harus mempekerjakan sekurang-kurangnya 1 orang penyandang cacat untuk tiap 100 karyawan. Sayangnya tak ada pengawasan yang efektif bagi perusahaan yang melanggarnya. Alhasil, UU ini bagaikan pajangan saja.

  • Fasilitas Bangunan Publik

Cobalah lihat fasilitas angkutan umum, WC umum, restoran, kantor pemerintah, museum, dan bangunan-bangunan publik lainnya. Berapa banyak yang memiliki fasilitas khusus bagi orang difabel?

  • Jaminan kesehatan

Para difabel mempunyai kebutuhan khusus atas kesehatan akibat kondisinya yang lebih rentan sakit atau terluka dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Sayangnya baru segelintir difabel saja yang mendapat jaminan kesehatan dan jaminan hidup dari pemerintah.

  • Pendidikan

Sebagai contoh, berdasarkan data yang dihimpun dari Forum Sukarelawan Pendidikan Luar Biasa Jawa Barat pada 2010 terungkap dari 120 ribu penyandang cacat di Jabar, terdapat 51 ribu penyandang cacat usia sekolah. Namun dari 51 ribu, hanya 13 ribu orang yang mengenyam pendidikan. Minimnya jumlah Sekolah Luar Biasa(SLB) dan tidak siapnya infrastruktur sekolah umum untuk menerima murid penyandang cacat menjadi kendala. Idealnya setiap kecamatan terdapat satu sekolah SLB. Padahal perangkat hukum untuk melindungi penyandang cacat telah ada hingga peraturan daerah.

Bentuk diskriminasi yang paling nyata kita lakukan adalah: membiarkan semua hal di atas terjadi! Padahal pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat untuk mewujudkan kesetaraan hak dan fasilitas bagi difabel ini. Kita bisa berpartisipasi langsung misalnya dengan membangun tempat usaha yang ramah bagi difabel jika kita adalah pelaku usaha. Atau memberikan sumbangan/bantuan pada YPAC (Yayasan Pendidikan Anak Cacat) yang telah ada di banyak wilayah di Indonesia. Atau yang lebih sederhana: bersikap normal terhadap difabel. Tidak perlu mengasihani mereka karena yang dibutuhkan bukan rasa kasihan, tetapi kesetaraan hak dan kesempatan bagi mereka.

Kabar baik, di bulan Oktober kemarin DPR telah meratifikasi Undang-undang Konvensi Hak Penyandang Disabilitas. Dengan UU ini, Indonesia telah mengukuhkan diri sebagai negara yang berorientasi pada perlindungan hak-hak asasi difabel termasuk hak partisipasi politik. UU ini dapat menyempurnakan dan melancarkan implementasi UU 4/1997 yang cenderung berbentuk pelayanan/charity saja. Mari kita awasi bersama, adakah kedua UU ini dapat diimplementasikan dengan baik??

1 ahli fisika teoretis yang mengalami kelumpuhan karena sklerosis lateral amiotrofik

Referensi: http://www.who.int, id.wikipedia.org, nasional.vivanews.com/news/read/151489-diskriminasi__penyandang_cacat_sulit_sekolah, www.kbr68h.com/feature/laporan-khusus/14014-uu-konvensi-hak-penyandang-disabilitas-solusi-atau-mimpi-

Alhamdulillah, tulisan ini terpilih menjadi pemenang 1 di lomba menulis Komunitas Blogger Bengawan, Solo. Bener2 tak disangka. Terima kasih atas apresiasi juri. Semoga semua artikel yang telah dibuat untuk lomba dapat bermanfaat, minimal bagi penulisnya🙂

Pengumuman pemenang ada di link:
http://bengawan.org/2011/12/dua-lomba-blogging-bengawan/comment-page-1/#comment-3437

Categories: Iseng-Serius-Menang | Tags: , , , , | 18 Komentar

Navigasi pos

18 thoughts on “Difabilitas di Indonesia: Pandangan Seorang Awam

  1. selamat ya mbak, udah jadi pemenang 1.
    muantap rek, isi ne…
    tapi menurut saya, di Indonesia sudah mulai bagus kok apresiasi nya thd difabel. di beberapa instansi sudah banyak yang mulai membuat sesuatu yang bisa mempermudah difabel. kadang kita terlalu menyalahkan pemerintah. ini bukan ada maksud apa2, saya juga kurang mengerti tentang siapa yang berwenang. tapi setidaknya sudah mulai banyak instansi yang bisa membuat para difabel mudah dalam melakukan hal yang biasanya kita lakukan. yah, ini semua tugas kita. jangan malah asal mengatakan ini yang nggak becuslah, ini itu yang lainnya.
    salam kenal dari Bengkulu…

    • salam kenal juga dari Subang🙂
      iya, ini emang bukan tanggung jawab pemerintah semata, kita juga seringkali (secara tak sadar) turut andil dalam diskriminasi terhadap teman2 difabel,,
      dan apresiasi yang udah mulai bagus ini mesti diangkat terus biar ga tenggelam sama isu2 lain🙂

  2. Sayangnya temen2 sekarang semua terlena dengan hasil ratifikasi Konvensi, padahal UU dari turunan ratifikasi itu blum dibuat, apalagi pelaksanaanx masih jauh panggang daripada Api, Semoga saja ini tidak jadi menara gading lagi, dan yang jelas konsep charity berupa panti harus bener-bener ditelaah, karena konsep panti adalah sebuah konsep yang gagal dan tidak ada pemberdayaan dari tahun ke tahun. Sudah saatnya bkn konsep charity tpi konsep pemberdayaan yg harus dikembangkan

    • setuju, kalau melihat teks ratifikasinya, poin-poinnya masih terlalu umum, saya rasa pemerintah memerlukan orang2 seperti mas untuk menyusun konsepnya🙂

  3. Selamat ya .. jadi pemenang 1. Semoga artikelnya berkah dan bermanfaat buat banyak orang ^__^
    Salam kenal dari Makassar🙂

    • Alhamdulillah, betul2 ga nyangka😀
      amin,,iya, semoga artikel ini bisa membantu teman2 difabel untuk bisa memperjuangkan hak-haknya
      salam kenal juga😀

  4. harusnya para penderita cacat lebih dilirik lagi oleh pemerintah

  5. Padahal banyak juga kaum difabel yang berprestasi ya ten.. ckckckck..

  6. Tanpa perlu dibaca tapi maksudnya sudah saya tangkap,,, memang memprihatinkan, seharunya tidak ada diskriminasi dan orang cacat tetap dapat pelayanan yang setara…
    Selamat Anda berhasil mengamati yang jarang teramati oleh orang lain, Take an Action sis,🙂

  7. angga

    Jarang lho ada yg memperhatikan smpe sejauh ini.. Mbak pingin terjun di bidang sosial y? Kayaknya mbak cocok deh di bidang itu kalo dilihat dari postingan2nya..

    • wah iyakah? secara nyata aq jarang terjun di bidang ini,, tapi siapa tau kalo dah terjun malah kecanduan yap :9

      • angga

        drpd terjun di bidang politik, g cocok.hhe..
        Hmm..btw, presiden Indonesia pernah ada yg difabel jg kan?

      • ohoho.. untungnya ga minat juga kok..
        oh iya, alm, Gus Dur.. sayangnya beliau belum sempat membela hak2 kaum difabel selama menjabat..

Komentarmu Sangat Berharga ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: