PENYAKIT PONDOK RANJI

Pondok Ranji

Tersebutlah suatu daerah di Tangerang Selatan yang menghubungkan kompleks Bintaro Jaya dan Ciputat. Pondok Ranji namanya. Ke sanalah dulu aku biasa pergi sekitar 3-4 kali seminggu untuk mengajar privat. Kehidupan di daerah ini rata-rata bersahaja, apalagi jika dibandingkan dengan kompleks Bintaro Jaya. Jalannya kecil, bangunan-bangunan toko di pinggirnya sederhana tapi bervariasi. Jalan ini ramai oleh manusia dengan berbagai kepentingan sejak pagi hingga malam. Angkot yang melintas ada 3 jenis: s08 (Bintaro-Lebak Bulus), s10 (Bintaro-Ciputat), dan d18 (Ciledug-Ciputat).

foursquare.com

Selain angkot, di Pondok Ranji juga ada stasiun perhentian kereta api, namanya stasiun Pondok Ranji (iyalah masa Pondok Indah). Relnya yang hanya 2 buah melintang melintasi jalan raya hingga mengharuskan setiap pengguna jalan waspada terhadap sirine pertanda kereta akan lewat. Biasanya yang datang itu kereta ekonomi dan KRL. Kereta-kereta itu akan sangat sesak di jam-jam berangkat dan pulang kerja, sekitar jam 06.30-09.00 dan 18.00-19.00 WIB. Intensitas kedatangan kereta juga meningkat, membuat para pengguna jalan lain mesti ekstra sabar menunggu. Padahal di jam-jam begitu, jalan raya juga penuh dengan pejalan kaki, pengendara sepeda, gerobak, motor, mobil, dan angkot. Saat kereta berhenti, angkot yang belum penuh akan dengan seenaknya parkir dekat stasiun-yang berarti  menghabiskan sebagian jalan sempit itu. Dan ketika palang diangkat, semua seakan berebut menjadi yang pertama yang berhasil melewati rel yang sudah karatan itu. Ini susah, karena jalannya dua jalur sementara kendaraan-kendaraan di kedua sisi rel sudah meluber hingga menutupi jalur yang berlawanan arah darinya. Kalau semua mau maju, tabrakanlah jadinya. Tetapi tak ada yang mau mengalah, walau akhirnya akan terpaksa kalah. Klakson, polusi asap kendaraan, polusi rokok, dan –terkadang- serapah bersahut-sahutan mengiringi drama ini. Petugas Dishub tampaknya kewalahan menanganinya. Maklum, ia hanya seorang diri, itupun kadang-kadang saja sosok berseragam itu muncul. Pemandangan ini selalu terjadi tiap malam, sejauh pengamatanku. Entah kalau pagi, tapi kurasa macetnya tak jauh berbeda.

Macet, mungkin bukan ‘penyakit’ baru bagi penghuni Tangerang. Sebagai kota satelit dari DKI Jakarta, Tangerang dihuni oleh ribuan pekerja yang mencari nafkah di ibukota. Mobilitas mereka tinggi. Kasus di atas pastinya juga sering terjadi di berbagai daerah di Tangerang, bahkan Banten, bahkan Indonesia. Tapi bukan berarti bisa dibiarkan begitu saja, kan? Lama-lama bisa menyebabkan ‘kematian lalu lintas’ seperti yang diramalkan terhadap Jakarta. Nah lho😛

Alangkah indahnya bila pemerintah daerah mencurahkan perhatiannya terhadap masalah ini. Jika berdasarkan kasus Pondok Ranji (jiah bahasanya), ada beberapa alternatif pembangunan yang dapat diusahakan:

1. Penertiban Angkot

i.poskota.co.id

Penertiban ini dapat berupa

  • Pendisiplinan sopir angkot
  • Pengurangan jumlah angkot dalam satu trayek (untuk mengurangi angkot kosong yang berlalu lalang)
  • Pengurangan trayek yang melewati daerah tersebut (agar tak ada perebutan penumpang jarak dekat)

2. Pembangunan tempat perhentian (ngetem) angkot.

  • Agar angkot tak berhenti sembarangan, sebaiknya dibangun semacam halte untuk angkot,misalnya di dekat stasiun. Perhentian ini menjorok ke pinggir jalan sehingga tidak memakan badan jalan. Konsekuensinya, pemerintah harus memastikan angkot tidak berhenti di tempat selain yang telah disediakan dan tidak terlalu lama berhenti sehingga menghalangi angkot di belakangnya.
  • Tentunya, dibutuhkan sosialisasi bagi pengguna dan sopir angkutan umum (khususnya angkot) tentang sarana ini.

3. Pembangunan SDM Dinas Perhubungan dan Optimalisasi Polantas

Sudah jadi rahasia umum bahwa kebanyakan pengguna jalan di Indonesia hanya bersikap disiplin di depan polisi🙂. Jadi, memasang polantas dengan jumlah yang memadai di sekitar jalan disertai dengan dukungan petugas dari Dishub Pemda akan sangat berpengaruh bagi kelancaran lalu lintas. Petugas tidak boleh pandang bulu, siapa saja yang mengganggu kelancaran jalan harus ditilang! Ditahan SIMnya, bagi pengguna kendaraan bermotor.

Masalahnya, sudah rahasia umum juga bahwa polantas dan petugas pemerintah itu gampang disuap😦.  Di sinilah peran Pemda untuk membangun mentalitas SDM-nya. Bisakah Pemda membangun pegawai Dishub yang jujur dan berintegritas untuk bekerja sama dengan polantas? Sekalian sebagai ‘pengingat’ polantas untuk tidak menerima suap.

Dalam rangka ‘pembangunan’ ini, sistem “carrot and stick” serta “whistle blower” dapat diterapkan. Misal dibuat perjanjian bagi para petugas untuk dapat mendisiplinkan pengguna jalan raya Pondok Ranji dalam sebulan. Jika setelah sebulan Pondok Ranji masih semrawut tentu ada sanksinya. Sebaliknya, jika petugas berhasil mendisiplinkan jalan akan diberi hadiah. Bonus senilai 2 bulan gaji, misalnya. Lewat spanduk dan baliho, masyarakat dihimbau untuk melapor ke hotline Pemda jika petugas-petugas ini diam-diam masih menerima suap .

4. Pendekatan pada masyarakat

Petugas Dishub (atau yang berwenang) dapat mengajak masyarakat (melalui tokoh masyarakat) untuk bekerja sama dalam program pemberantasan kemacetan di daerahnya. Terutama untuk mencegah masyarakat menghentikan angkot di sembarang tempat dan menyeberang sembarangan.

Itu saja yang terpikir olehku. Semoga saja setelah posting blog ini ditulis, penyakit macet Pondok Ranji bisa cepat pulih🙂.

Categories: Iseng-Serius-Menang | Tags: , , , , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “PENYAKIT PONDOK RANJI

  1. Benar sekali, asal yang menertibkan juga dapat menjadi teladan dalam hal ketertiban, masalah kemacetan ini Insya Allah dapat cepat teratasi

  2. masalah kemacetan merupakan masalah umum terjadi dan sulit diatasi,ditambah lagi trjadi kriminalitas di dalam angkot sehingga orang jadi takut naik angkot,mudah2an dengan adanya penertiban itu semua bisa teratur dan aman serta lancar,amin

Komentarmu Sangat Berharga ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: