HOW TO START HOME EDUCATION?

Review Diskusi Komunitas Home Education Berbasis Potensi dan Akhlak Nasional (hebpa.nas@gmail.com)

Kamis, 27 November 2014

Narasumber: Harry Santosa (praktisi HE sejak 1994, founder Millenial Learning Centre)

Disarikan oleh: Inten Ratna Sari

Ilustrasi buku '50 Fabel Flanel Unik & Seru" (tersedia di penulis)

Ilustrasi buku ’50 Fabel Flanel Unik & Seru” (tersedia di penulis)

Pengantar:

Sesungguhnya hanya kedua orang tualah yang paling kenal potensi dan keunikan anak-anaknya. Dari sanalah karakter-karakter baik dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia.

Dunia persekolahan tidak pernah mengandung dan melahirkan anak-anak kita, bahkan tidak pernah diberi amanah oleh Allah SWT sesaatpun juga. Sehingga dunia sekolah bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan tulus. Siapakah yang diberi amanah itu? Ya, kita, orang tuanya! Orang tua memiliki amanah untuk mendidik generasi peradaban di dunia dan sebagai umat yang membanggakan Nabi Muhammad kelak di Yaumil Qiyamah.

Demi menjalankan amanah itulah, membangun Home Education bukanlah pilihan tapi kewajiban setiap orang tua. Porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.

Lalu, bagaimana cara memulai Home Education ini?

Eits, sebelum membahas caranya.. yuk kita perkuat dulu mindset kita tentang pendidikan rumah alias Home Education.

Esensi Pendidikan

Pendidikan juga adalah tugas Nabi sepanjang sejarah. Allah berfirman dalam Al Quran

“ Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Al Jumu’ah:2)

Ayat ini adalah jawaban atas doa Nabi Ibrahim AS tentang generasi yang akan dibangkitkan dari keturunannya.

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah:129)

Doa Nabi Ibrahim AS: pembacaan -> pengajaran -> pensucian

Tetapi jawaban Allah SWT: pembacaan -> pensucian -> pengajaran

Jadi tahapan pendidikan yang benar: pembacaan ayat Allah (baik kauniyah maupun Qauliyah), kemudian pensucian(tazkiyah), baru pengajaran.

Beberapa ulama memaknai tazkiyah (pensucian) sebagai tarbiyah. Tarbiyah dlm bahasa Arab memiliki akar kata yang sama dengan nama Allah, Robb. Secara umum, tarbiyah dapat dikembalikan kepada 3 kata kerja yang berbeda, yakni:
Rabaa-yarbuu yg bermakna namaa-yanmuu, artinya berkembang.
Rabiya-yarbaa yg bermakna nasya-a, tara’ra-a, artinya tumbuh.
Rabba-yarubbu yg bermakna aslahahu (memperbaiki), tawallaa amrahu (mengurus), sasa-ahuu (memimpin), wa qaama ‘alaihi (menjaga), wa ra’aahu (memeliharanya atau mendidik).

Karenanya, tarbiyah dapat diartikan menumbuhkan fitrah anak yang merupakan inti pendidikan. Sedangkan ‘pengajaran’ adalah pemberian skill dan knowledge.

Pendidikan adalah proses ‘Inside Out’, yaitu membangkitkan fitrah-fitrah dalam diri anak kita, bukan proses penjejalan ‘Outside In’. Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, belajar, bakat, perkembangan, dll) namun semua itu adalah potensi yang terpendam. Maka tugas orang tualah untuk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak-anak mencapai peran peradabannya/misi spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi.

Jika fitrah-fitrah ini bangkit, maka anak-anak akan beriman dengan sendirinya, belajar dengan sendirinya, tanpa perlu kita awasi atau suapi J

Bagaimana cara menerapkan pendidikan ‘Inside Out’?

  1. Menyadari bahwa tiap anak telah terinstal setidaknya dengan 4 fitrah utama:

Keimanan

Pembelajar yang tangguh

Potensi bakat

Perkembangan

  1. Membangkitkan kesadaran atas fitrah itu dengan cara dan metode yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Tahapan Mendidik Anak menurut M. Fauzil Adhim

Tahapan Mendidik Anak menurut M. Fauzil Adhim

Contohnya untuk usia 0-7 tahun:

  • Mencontohkan amal sholeh dengan akhlakul karimah
  • Menginspirasi anak dengan kisah-kisah kepahlawanan orang-orang besar
  • Membangun imaji-imaji positif tentang Allah, tentang ciptaan Allah pada alam, pada diri, pada masyarakat. Misalnya: “wah lihat kucing-kucingnya lucu ya. Warnanya beda-beda, ada yang coklat ada yang putih. Mereka semua diciptain Allah lho”. Atau anak diajak ke pantai, merasakan pasir yang halus dan mengagumi luasnya lautan. “Indahnya pantai, luasnya lautan, hebatnya Allah yang kuasa menciptakan”.

Contoh ‘Outside In’:

  • Memaksa anak belajar membaca (salah satunya) dengan flashcard
  • Menyuruhnya membaca 1 buku 1 pekan
  • Menargetkan belajar
  • Memaksanya shalat

Ini yang disebut merusak fitrah karena orang tua tidak yakin akan fitrah anak sebagai pembelajar tangguh. Sebenarnya orang tua hanya perlu membangkitkan fitrahnya dengan keteladanan, inspirasi, dan keikhlasan.

Nah, memulai teknis HE akan terasa mudah jika kita memulai dengan kesadaran akan esensi HE ini ^^

Bagaimana Memulai Home Education

Yang pertama (dan utama) adalah… mendidik diri kita sebagai orang tua. Caranya:

  1. Diawali dengan membaca ayat-ayat Allah baik ayat Qauliyah maupun Kauniyah,
  2. Kemudian mensucikan diri kita (tazkiyatunnafs) untuk mengembalikan fitrah-fitrah baik yang telah Allah karuniakan kepada kita

Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali mendidik anak-anak kita. Mendidik adalah membangkitkan kesadaran fitrah. Karenanya, para orang tua perlu mengawali pendidikan ini dengan mengembalikan fitrah-fitrah baiknya melalui tazkiyatunnafs. Apa yang keluar dari fitrah baik, akan diterima oleh fitrah baik. Apa yang hanya keluar dari mulut, hanya akan sampai di telinga.

Fitrah keimanan anak kita akan bertemu dengan fitrah keimanan orang tua

Fitrah belajar anak kita akan bertemu dengan fitrah belajar orang tua

Fitrah potensi bakat anak kita akan bertemu dengan pengakuan dari kedua orang tuanya akan potensi anak sebagai karunia Allah SWT

Fitrah tahapan perkembangan anak kita akan bertemu dengan pengakuan dari kedua orang tuanya bahwa segala sesuatau di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing-masing.

Melakukan tazkiyatunnafs adalah mengembalikan kesadaran kita akan fitrah-fitrah baik dalam diri kita. Kesadaaran akan Keimanan, Janji dan syahadat kita kepada Allah SWT, Peran dan misi penciptaan, dll

Caranya ialah dengan memperbanyak kedekatan diri pada Allah SWT dengan

  • Banyak-banyak bertaubat
  • Perbanyak Ibadah
  • Amal Shaleh
  • Tinggalkan maksiat
  • Wara’ terhadap yang halal dan syubhat
  • Banyak-banyak berdoa

Demikian review kali ini. Semoga dapat kita terapkan yaa ayah bunda ^^

Categories: Muslimah | Tags: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Komentarmu Sangat Berharga ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: