Komunikasi Produktif: Aliran Rasa

Komunikasi Produktif: Aliran Rasa

Setelah mendapat materi Komunikasi Produktif dari kuliah Bunda Sayang IIP dan mempraktekkannya selama 10 hari, saya jadi lebih sadar untuk memelihara komunikasi yang baik dengan suami, anak, bahkan rekan kerja saya. Terkadang emosi masih menang, tapi sekarang saya tahu bagaimana menanggulanginya. Karena, i’m responsible for my communication result 😉 Terima kasih Bunda Sayang ^^

Tangerang, 17 Februari 2017

Inten Ratna Sari

 

Iklan
Komunikasi Produktif #hari10

Komunikasi Produktif #hari10

*Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Komunikasi pada Anak: Jelas dalam Memberi Pujian dan Kritikan

Kemarin aku dan Estha berjalan-jalan sekitar rumah. Kami hendak mencari serangga.Mata tajam Estha segera menemukan sarang laba-laba yang tak berpenghuni, semut dan lalat. Seperti biasa, ia berkata “ayo difoto bun!”. Wah, pikirku, kami kan sudah mengoleksi beberapa foto semut dan lalat. Dua serangga ini memang paling jamak berada di sekitar kita. jadi aku lontarkan ide “gimana kalo kita gambar aja semutnya?” “Ayuk!” Estha langsung setuju.

Ternyata pada prakteknya, Estha lebih memilih menggambar kepik dan kupu-kupu. WOW momentnya, gambarnya sudah lebih berbentuk. Terutama kupu-kupu: sudah kelihatan mana sayap dan tubuhnya. Akupun memberi pujian “wah Estha gambarnya udah lebih jelas ya. Estha udah makin terampil menggambar!” Iapun nyengir nyengir senang. Lalu dengan semangat ia menawarkan diri menggambarkan belalang, sapi, singa, gajah, dan banyaak lagi 😀

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari9

Komunikasi Produktif #hari9

**Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Ramah pada Anak

Pulang ke rumah kemarin, saya datang dengan tekad baru: bersikap ramah pada anak. Ini elemen penting dari prinsip komunikasi 7-38-55 , dimana pesan yang diterima adalah 7% jkata-kata, 38% intonasi, dan 55% bahasa tubuh. Selama ini saya sering berwajah datar di hadapan anak, dengan maksud menyembunyikan kekesalan hehe. Tetapi suatu saat saya melihat foto eksperimen reaksi bayi terhadap ekspresi ibunya. Saat ibunya tertawa, bayi tertawa. Saat ibunya berwajah datar, sang bayi berusaha menarik perhatian ibunya agar tertawa, dan saat ibunya masih berkespresi datar, sang bayi berupaya menolaknya dan menangis. Nah nah nah, bisa jadi kan ternyata ekspresi datar saya lah yang memicu bad mood anak.

Sesi bermain malam pun dimulai. Saya berupaya selalu tersenyum (jika ingat) dan mendegarkan celoteh anak dengan sungguh-sungguh. Senangnya, Estha berhasil mengarang cerita untuk pertama kalinya. kira-kira begini dialog kami:

E: Bunda, udah pernah denger cerita tentang Moo (sapi) sama tikus belum?

B: hmm kayanya belum. Emangnya ceritanya gimana?

E: Kan Moo sama ibu Moo lagi jalan di dapur, trus ada tikus lewat. Terus Moo nabrak tikus..

B: Trus?

E: udah

B: hehehe waah mudah-mudahan tikusnya ga luka ya ditabrak Moo

E: gapapa kan salah tikusnya ga lihat-lihat jalan

B: …

Alhamdulillah, keadaan damai pun terus berlangsung sampai Estha minta sendiri untuk tidur. Dibanding malam sebelumnya (dimana Estha banyak melawan ajakan untuk tidur dan pipis sebelum tidur) ini jelas kemajuan.

Nice sleep baby 🙂

#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari8

Komunikasi Produktif #hari8

_Cemilan Rabu #1_

*12 Gaya Populer, Penghambat Komunikasi Kita*

📆 _Hari baru, Semangat Baru_

Satu minggu sudah kita memperdalam materi “Komunikasi Produktif”. Dan teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang menghambat komunikasi kita.

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic). Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri.

Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Berikut adalah contoh-contoh 12 gaya populer:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

🔟Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.
Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014_

_Tim Fasilitator Bunda sayang IIP, Hasil Tantangan 10 hari, komunikasi produktif, 2017_

Hari kedelapan, saatnya untuk evaluasi gaya komunikasi jadoel apa yg masih (keceplosan) saya pakai terhadap anak.

No 1, memerintah, duh yang ini masih susah ditinggalkan. Contohnya tadi malam, dimana mata sudah 5 watt tapi anak minta ditemani mencari mainan. Saya dengan teganya membentak ‘cepat cari mainannya!’ .duh. Seharusnya tidak begitu. Harusnya saya menghapus kantuk dgn cuci muka agar otak lebih segar dan bisa menggigit lidah dari kata2 perintah dan nada menyakitkan. Astaghfirullah.

Lalu nomor 7, Menasehati. Ini kan bawaan ibu2, bagaimana bisa menggigit lidah agar tidak menasehati??? Tiap kali Estha terlihat menahan pipis, saya tidak bisa menahan diri dari menasehati nya tentang nikmatnya pipis di kamar mandi dan malunya mengompol. Tapii efeknya belum kelihatan. Seharusnya (menurut teori) saya mendengarkan perasaannya/menebak perasaannya dulu,, seperti”kelihatan nya Estha gelisah, apa Estha sedang merasa tidak enak?” Lalu biarkan dia mengalirkan perasaannya , baru saya memberi feedback dengan bertanya balik atau menceritakan pengalaman yg berhubungan dengan pipis ini agar dia sampai pada simpulan sendiri. Bisakah dipraktekkan untuk anak 3,5y??? Mengapa tidak??? Saya belum (cukup bersabar untuk) mencoba!

Hupff marii belajar tahan lidahhh

#tantanganhari8

#komunikasiproduktif

#kuliahiipbunsay

 

Komunikasi Produktif #hari7

Komunikasi Produktif #hari7

*Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Clear & Clarify

“mba, nanti selimut biru di kamar Estha tolong dicuci ya, sudah bau” ujarku saat bersiap-siap beragkat ke kantor di pagi hari.
“iya bun” kata sang mbak.
Sorenya.
Kulihat selimut biru itu masih teronggok manis di kamarku (yang juga kamarnya Estha).
Hemm.
“bun, yang dicuci itu maksudnya selimut atau karpet yang biru yaa?” tanya si mba dengan polosnya saat melihat ekspresiku.
“yang ini lho mba” kataku sambil menunjukkan selimut yang sudah terkena ompol itu. Hoalah. perasaan instruksiku tadi pagi sudah Clear deh. Jelas-jelas yang ada di kamar Estha itu selimut, kalo karpet disimpannya di kamar mba. But hey, i’m responsible to my communication result. jadi apa yang perlu diperbaiki? Ouya, aku belum Clarify. Bisa saja tadi pagi mbak sedang memikirikan segunung cucian yang harus dicuci, masakan yang akan diolah, atau bahkan pacarnya sudah berangkat kerja atau belum. jadi ga fokus mendengar permintaanku. Seharusnya aku minta dia menyebutkan ulang apa permintaanku untuk memastikan dia paham apa yang kumaksudkan.
Wew, mari belajar dari kesalahan.
#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari6

Komunikasi Produktif #hari6

*Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Eye Contact dan Belaian

Family Forum kemarin berlangsung mesra. Ahay. Hanya ada aku dan dia di sebuah meja. Meja yang tadinya mwnyangga makanan, kini menyangga rasa puas dan tenang dua insan. Diiiringi alunan hujan, aku mencoba mempraktekkan salah satu resep komunikasi produktif: intensity of eye contact. Suatu hal yang jarang bisa kami praktekkan di rumah karena biasanya obrolan kami disambi pekerjaan lain. Sambil bersandar tenang, kupandang matanya lamat-lamat. Ia balas memandangku sebentar, lalu pandangannya beralih. Ahay, malukah imamku ini? Pembicaraan mengalir dengan alami, ditingkahi senyum dan kehangatan. Ia bercerita dengan semangat, aku menanggapai dengan tenang. Luar biasa pengaruh eye contact ini. ^^

Baru saja kubaca artikel dari bu Ani Ch, seorang psikolog, tentang penyelarasan visi misi suami istri. Kuncinya adalah di komunikasi. Nah, salah satu tips komunikasi yang jarang dipraktekkan adalah: gunakan sentuhan. Menyentuh tangan, membelai punggung, mengusap kepala, segala bentuk sentuhan yang nyaman. Nah, tadi malam aku berkesempatan mempraktekkannya. Pada Estha.

Jadi ceritanya, saat kami-aku, suami, dan Estha- tidur malam, sekitar jam 3 Estha terbangun dan mengeluh gerah. Hal yang hampir mustahil karena suhu AC di kamar sudah 20 derajat Celcius! Aku sudah coba mengipasinya, tetapi ia malah semakin berteriak mengeluh gerah. Setelah diamati, ternyata celananya telah basah kuyup karena ompol dan bahasa tubuhnya sangat tidak nyaman dengan itu. Suami lalu menyuruh untuk mengganti celananya (walau diiringi protes) lalu mengalasi bagian kasur yang terkena ompol.  Teriakan kini berganti menjadi tangisan. Aku terpikir, mungkin saja selain rasa tidak nyaman, tangisannya ini juga kumpulan emosi yang terkumpul selama hari itu tidak bertemu dengan kami, orang tuanya. Maka akupun membelai pungungnya, dan berulang mengucapkan kata-kata bahwa kami sayang dan cinta padanya. Dengan izin Allah, tangisnya perlahan mereda dan ia kembali tidur dengan tenang. Alhamdulillah.

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip