Komunikasi Produktif #hari8

Komunikasi Produktif #hari8

_Cemilan Rabu #1_

*12 Gaya Populer, Penghambat Komunikasi Kita*

📆 _Hari baru, Semangat Baru_

Satu minggu sudah kita memperdalam materi “Komunikasi Produktif”. Dan teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang menghambat komunikasi kita.

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic). Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri.

Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Berikut adalah contoh-contoh 12 gaya populer:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

🔟Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.
Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014_

_Tim Fasilitator Bunda sayang IIP, Hasil Tantangan 10 hari, komunikasi produktif, 2017_

Hari kedelapan, saatnya untuk evaluasi gaya komunikasi jadoel apa yg masih (keceplosan) saya pakai terhadap anak.

No 1, memerintah, duh yang ini masih susah ditinggalkan. Contohnya tadi malam, dimana mata sudah 5 watt tapi anak minta ditemani mencari mainan. Saya dengan teganya membentak ‘cepat cari mainannya!’ .duh. Seharusnya tidak begitu. Harusnya saya menghapus kantuk dgn cuci muka agar otak lebih segar dan bisa menggigit lidah dari kata2 perintah dan nada menyakitkan. Astaghfirullah.

Lalu nomor 7, Menasehati. Ini kan bawaan ibu2, bagaimana bisa menggigit lidah agar tidak menasehati??? Tiap kali Estha terlihat menahan pipis, saya tidak bisa menahan diri dari menasehati nya tentang nikmatnya pipis di kamar mandi dan malunya mengompol. Tapii efeknya belum kelihatan. Seharusnya (menurut teori) saya mendengarkan perasaannya/menebak perasaannya dulu,, seperti”kelihatan nya Estha gelisah, apa Estha sedang merasa tidak enak?” Lalu biarkan dia mengalirkan perasaannya , baru saya memberi feedback dengan bertanya balik atau menceritakan pengalaman yg berhubungan dengan pipis ini agar dia sampai pada simpulan sendiri. Bisakah dipraktekkan untuk anak 3,5y??? Mengapa tidak??? Saya belum (cukup bersabar untuk) mencoba!

Hupff marii belajar tahan lidahhh

#tantanganhari8

#komunikasiproduktif

#kuliahiipbunsay

 

Iklan

Komentarmu Sangat Berharga ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s