Apresiasi Aksi Putih Putih

Apresiasi Aksi Putih Putih

Malam setelah proyek, keluarga kecil kami kruntelan bertiga di kasur. Kami mengapresiasi semangat Estha untuk aktif terlibat dalam proyek pertama kita. Tak lupa bertanya Bagaimana perasaannya? Apakah Estha senang mengecat? Dijawab dengan anggukan ^^

Selanjutnya kami mencari ide proyek tuk hari esok. Ayah mengusulkan membuat donat. “Apa nama proyeknya? Donat bulat-bulat?” tanya bunda. “Donat kotak-kotak” celetuk Estha. AHA! Ide yang unik! Jadilah donat kotak-kotak akan dilakukan bunda dan Estha di hari esok. Hmm gimana jadinya ya?

#TantanganHariDua

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunSayIIP

Aksi Putih Putih

Aksi Putih Putih

Nama Project: Aksi Putih Putih

Sasaran:

#Mengecat tembok pagar yang belum di cat dan bagian-bagian tembok lain yang sudah pudar  warnanya.   Semuanya menggunakan cat putih.

#Meningkatkan bonding  ayah dan anak

Sarana:

1 kaleng cat putih

2 kuas

Tangga

Baju yang sudah usang

Sumber Daya Manusia

PIC: Ayah

Pelaksana: Ayah dan Estha

Asisten & dokumentasi : Bunda

seksi bersih-bersih lantai : Mba  Nur

Waktu Pelaksanaan

Selasa,  28 Maret 2017 pukul 11.00-13.30 WIB

Proses Pelaksanaan

IMG_20170328_110102.jpg
Estha dan Ayah sedang berkarya 🙂
IMG_20170328_111416.jpg
mencuci sendal yang terkena cat

Ayah dan Estha membeli cat dan kuas bersama-sama. Lalu keduanya berganti baju dengan baju yang sudah usang.  Persiapan selesai 🙂 Cuss lanjut menari-narikan kuas di tembok, menyalurkan rasa seni :D. Bunda bagian foto-foto dan mengambilkan tangga untuk bagian cat yang di atas. Estha ikut memanjat tangga bersama ayah tapi kali ini jadi pengamat saja 🙂

Setelah Estha selesai mengecat (meninggalkan ayah mengecat sendirian hhe,  maklum anak 3 tahun 8 bulan rentang konsentrasi nya masih pendek),  Bunda mengajaknya membersihkan tangan,  kaki,  kuas,  dan sendalnya yang belepotan cat.  Dia menolak dibantu,  ingin semuanya sendiri.  Tapi bunda memaksa membantu,  karena membersihkan cat tembok perlu penekanan agak keras,  tak  bisa sekadar diusap.

Pengamatan Aspek Khusus

Komunikasi Produktif

Estha sudah mampu mengikuti instruksi. Ia juga mampu diajak berdialog bila ada keinginannya yang kurang sesuai dengan orang tua/norma/keamanan.

Kemandirian

Sangat bersemangat untuk mengecat sendiri (bahkan membooking kuas yang paling besar), naik tangga sendiri (gak mau dipegangin), menjemur sendal sendiri dan mencuci tangan dan kaki sendiri.

Kecerdasan

Cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya (IQ)

Dengan mencoba langsung

Cara anak mengelola emosi selama proyek berlangsung (EQ)

Pada beberapa hal,masih memaksakan kehendaknya. Misal mengatur posisi duduk bunda, bunda harus begini, harus begitu 🙂

Cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dalam proyek (SQ)

Dengan terlibat langsung mengecat

AQ

Estha mampu mengotrol dirinya dan kadang bisa menerima jika tidak semua permintaan bisa dikabulkan

#TantanganHariSatu

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunSayIIP

 

 

 

 

Melatih Kemandirian: Aliran Rasa

Melatih Kemandirian: Aliran Rasa

Tantangan Bunda Sayang #2: Melatih Kemandirian ini terasaaa banget gregetnya. 2 minggu menerapkan ini benar-benar melatih karakter kesabaran, konsisten, dan persisten kita. Plus memutar otak untuk menelurkan sejuta kreasi agar anak dapat berlatih mandiri dengan rasa senang. Huwaw kalau begini terus maka seorang ibu seharusnya jadi ahli strategi terandal di dunia 😀

Terima kasih kepada bu Septi, bun Dyah Kusumastuti, bun Siti Mashunah, dan segenap Tim Fasilitator Bunda Sayang. Kalau bukan karena Allah lewat tantangan bunda semua, mungkin saya takkan bisa memaksa diri memulai kemandirian ini #bighug

#MelatihKemandirian

#AliranRasa

#KuliahBunSayIIP

 

 

 

 

OWOS Minggu Ketiga: Makan Sendiri

OWOS Minggu Ketiga: Makan Sendiri

Setelah minggu pertama berlatih memakai kaus sendiri dan minggu kedua membereskan mainan sendiri, waktunya beralih ke kemandirian yang sesungguhnya #halah. Makan sendiri itu sesuatu banget untuk anak yang sudah 3 tahun 2 bulan ini terbiasa disuapi sama mbak dan nenek yang (jujur saya akui) lebih hebat membujuknya makan dibanding emaknya sendiri. Dari dulu memang emaknya ini ingin Estha terbiasa makan sendiri, tapi belum ada kesempatan untuk melatihnya langsung. Kalo sama mba nya kan yang penting anaknya makan yee. Nah, berhubung mulai 9 Maret ini saya cuti bersalin, waktu sebulan sebelum HPL ini bisa saya manfaatkan sebaik2nya untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab si sulung dalam 2 hal yang paling menantang: makan dan toilet training. Mungkin saja, nanti saat adiknya launching, Estha akan mengalami regresi kemampuan seperti yang dipaparkan para Psikolog. Tapi kan regresinya hanya sementara, insya Allah. Akan lebih mudah untuk mengembalikannya ke kebiasaan awal bila sudah ada pondasinya.

Jadi, terhitung mulai 13 Maret ini saya tidak menyuapi Estha lagi. Di awal hari, saat sarapan, alhamdulillah Estha mau makan sendiri sambil saya beri pengertian bahwa dia sudah besar. Sufah waktunya makan sendiri. Juga suatu saat bila tidak ada orang tua dan mba nya, dia tidak akan kelaparan. Buku Super Balita Mandiri juga sangat membantu. Hampir tiap malam dia minta dibacakan sebuku penuh buku ini. Sayangnya, cerita tentang Ali yang makan sendiri di buku ini juga seakan menginspirasi perilaku yang tidak baik seperti membuat gelembung saat minum. Tokoh ibu dalam buku itu hanya melarang Ali melakukan nya saat makan. Jadilah  Estha menganggap itu menyenangkan dan boleh dilakukan setelah makan -_-.

Tantangan muncul saat makan siang. Ia menolak makan kalau tidak disuapi. Lalu menangis. Saya sempat terpancing emosi juga. Lalu akhirnya mengalah menyuapinya. Huhu. Untuk makan sore, dia mau makan sendiri (beberapa suap). Malamnya, tanpa sepengetahuan saya, tetangga yang sudah akrab dengan Estha membawakan nasi dan lauk lalu bersama mbak pengasuh menyuapinya di luar. Hemm.

Hari kedua, Estha masih ga rela makan sendiri. Kami lalu tawar menawar, sarapan disuapi tapi mulai siang makan sendiri. Untuk sarapan ini juga kami membuat sendiri menu kesukaan Estha: pasta brokoli baso. Alhamdulillah untuk siang-sore-malam Estha mau makan sendiri. Walau dengan rajukan dan penolakan sebelumnya. Ditambah proses makan nya lambat karena menyendoknya sedikit-sedikit. Kadang disambi main sepeda. Lalu ia memilih berhenti sebelum kenyang. “Udah ga lapar” katanya. Mau dibujuk gimana, ajaran Rasul Shalallahu ‘alaihi wa salam kan memang seperti itu y? Di hari kedua ini juga saya berdialog dengan mba tentang pentingnya melatih Estha makan sendiri. Bahwa ini akan berpengaruh bagi masa depannya, terutama dalam hal kemandirian dan tanggung jawab. Jika tidak dari sekarang, kapan lagi? Ia pun balik bercerita tentang adik bungsunya yang sejak Playgroup tidak mau diantar-antar. Apalagi disuapi. Nah, adiknya saja bisa mandiri. Masa Estha tidak.

Hari ketiga, sarapannya roti. Makan sendiri habis sepertiga. Makan siang dan sore saya upayakan dikreasikan. Nasi dibentuk, lauknya dibuat cerita. Ga mempan. Estha menolak makan kalau tidak disuapi dan jadinya merajuk. Padahal dia mengakui sendiri kalau lapar. Sampai malam ia bertahan hanya memakan sisa roti sarapan.

Hari keempat, Estha ikut bangun sahur. Merajuk minta disuapi. Akhirnya saya suapi 3 sendok. Lalu dia minta tidur. Paginya dia bangun dengan riang dan mau makan sendiri nasi dan telur. Jatah nasinya habis alhamdulillah. Telurnya sisa sedikit. Sekarang anaknya masih tidur, belum makan siang. Hemm perjuangan belum selesai. Fightiing bunda dan Estha!!! #menyemangati diri sendiri

OWOS 10: Efek Buku

OWOS 10: Efek Buku

*catatan 10 Maret 2017

Siang ini Estha minta dibacakan sebuku penuh SCB: Super Balita Mandiri yang sudah saya ceritakan di post lalu. Benar-benar sebuku penuh dan dia perhatikan selama itu (jangka waktu konsentrasinya sudah mulai bertambah sepertinya). Efeknya? Ketika sore bunda ajak untuk membereskan mainan, dengan sigap dia berkata “mobilnya mau masuk garasi bun” sambil memasukkan mobil2annya ke kotak mainan. Persis seperti tokoh Ali di buku Super Balita Mandiri. Yeay alhamdulillah. Sekarang bunda tahu ‘drama’ yang bisa dipakai untuk mengajak Estha membereskan mainan. Dan jadi trik juga untuk pembiasaan selanjutnya. Masih ada PR makan sendiri dan toilet training uy *lap keringat. Mudah-mudahan bisa tuntas sebelum lahiran. Aamiin.

#Level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian

OWOS 9: Super Balita Mandiri

OWOS 9: Super Balita Mandiri

1489152667644254579854.jpg
dok pribadi

*catatan 9 Maret 2017

Alhamdulillah,  sore ini buku Seri Cerita Balita: Super Balita Mandiri datang diantar om JNE ^^.  Buku ini direkomendasikan oleh teman pemilik toko buku online juga ada testimoni positif dari pembacanya.

Lalu,  bagaimana reaksi Estha? Mulanya ia tampak tidak antusias.  Ia lebih memilih membuka-buka buku dan mengamati ilustrasinya dalam diam.  Di usianya yang semakin besar ini,  tampaknya dia mulai ingin membaca sendiri.  Tapi tetap susah menangkap ceritanya hingga akhirnya dia minta dibacakan hehehe.  Malam sebelum tidur,  setengah isi buku ini sukses dibacakan sebelum Estha mengajak tidur karena enaknya ketiduran saat membacakan buku (jangan tanya kenapa bisa ya hoho).  Oiya,  buku ini cukup tebal karena berisi kumpulan-kumpulan cerita kemandirian Balita,  termasuk membereskan mainan sendiri,  makan sendiri,  dan lainnya. Nah,  mudah-mudahan cerita ini dapat berpengaruh pada pembiasaan Estha merapikan mainan sendiri ^^

#level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian

OWOS 8:Selangkah Lebih Maju

OWOS 8:Selangkah Lebih Maju

*catatan 8 Maret 2017

Menjelang tidur tanggal 8 Maret, bunda mengajak Estha bersama2 membereskan mainan dgn alasan takut mainannya dimakan tikus saat malam. Alhamdulillah Estha mau membereskan beberapa mobilnya, lalu langsung kabur ke kamar hoho. Setidaknya, ini satu langkah yang baik.

#level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian