Materi #5 Bunda Sayang: Menstimulasi Anak Suka Membaca

Materi #5 Bunda Sayang: Menstimulasi Anak Suka Membaca

*Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi ke #5*

_MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA_

🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

Mari kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, belum pernah mengetahui bahasa mandarin kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?
Pusing? Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak`yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

🍒 *KETRAMPILAN BERBAHASA*
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.

🍒 Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills)
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills)
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills)
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills)

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang *BISA MENDENGARKAN* ( Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti *BISA BERBICARA* dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang *BISA MEMBACA, belum tentu terampil mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya.*
Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.
Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.
Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk *BISA* membaca tidak *SUKA MEMBACA*. Sehingga banyak diantara kita BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (
MENULIS KARYA)
Terbukti berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi _”Most Littered Nation In the World”_ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Padahal program membaca ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’( bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.
Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll.

Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak mengenal “siapakah dirinya”, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.

*MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA*

Sekarang kita akan belajar bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita *SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.*

🌼🌸🌼🌸🌼🌸

Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.

🍒 *TAHAP MENDENGARKAN*

a. *Sering-seringlah berkomunikasi* dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.

b. Buatlah berbagai *forum keluarga* untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.

c. *Setelkan berbagai lagu anak*, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.

d. *Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras* agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.

e. *Sering-seringlah mendongeng/membacakan* buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak,

🍒*TAHAP BERBICARA*

a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan *SUARA ANAK*

b. *Jadilah pendengar yang baik*, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.

c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara *membuat simulasi kelas*, dan dia menjadi guru kecil di depan.

d. *Ajaklah anak-anak bersilaturahim* sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.

🍒*TAHAP MEMBACA*

a. *Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar* yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak

b. *Tempelkan tulisan/kata* pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- “televisi” pada pesawat televisi.

c. Buatlah *acara membaca bersama* yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan

d. Sekali waktu, *ajaklah* anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku

e. Siapkan alat perekam dan *rekamlah* suara anak kita yang sedang membaca buku

f. Biasakanlah *surat-menyurat* dengan anak di rumah. Misalnya , dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah

g. Dorong dan ajak anak kita untuk *membaca apapun* label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi

h. Berikan *buku-buku berilustrasi* tanpa teks. Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.

i. *Komik* juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat).

j. Ajaklah anak *bertemu* dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku.

k. *Dukung hobi anak* kita dan sangkut pautkan dengan buku.
Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya

l. *Budaya baca* bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak, ada mainan anak, ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.

m. Ajaklah anak untuk *memilih bukunya sendiri*, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih

n. *Contohkan kebiasaan membaca* dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten

o. *Buatlah pohon literasi keluarga*, caranya:
📌Masing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding.
📌Siapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut.
📌kemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut.

Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.

🍒*TAHAP MENULIS*

a. *Siapkan satu bidang tembok* di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.

b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk *menulis apapun* yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain

c. *Siapkan buku diary keluarga*, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.

d. *Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu* anak dari kertas bekas, ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.

e. *Hiraukanlah* tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.

 

Salam Ibu Profesional,

 

/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

 

Sumber Bacaan :

Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014

Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017
Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung : Kaifa. 2012
http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Learning-and-Education/-/4-to-13-years/Help.-My-child-doesn’t-like-reading.aspx

Observasi Gaya Belajar Anak: Aliran Rasa

Observasi Gaya Belajar Anak: Aliran Rasa

Tantangan ini sebenarnya sejalan dengan misi hidup saya: membangkitkan dan mengembangkan fitrah belajar anak. Tapi di tantangan ini juga saya merasa tertohok. Saya masih merasa belum optimal mengobservasi gaya belajar anak, apatah lagi memanfaatkannya untuk membantunya belajar. Walaupun saya percaya anak pasti belajar hal baru setiap hari, tapi rasanya anak hanya melakukan kegiatan yang sama tiap hari. Ini juga jadi evaluasi saya untuk lebih intensif mendorong nya mencoba tantangan baru atau kegiatan lain (istilah bang Ical, belanja pengalaman).

Terima kasih tantangan Bunda Sayang, engkau telah mendorongku untuk berjuang lebih keras mencapai misi hidupku!

Observasi Gaya Belajar Anak #10

Observasi Gaya Belajar Anak #10

Nama Anak: Umar Raihanul Firdaus

Tanggal: 6 Mei 2017

Usia: 27 hari

Stimulasi:

Tubuh bunda mendekat saat akan menyusui Raihan dengan gaya lying down. Raihan merespon dengan memiringkan badan ke kanan atau ke kiri sesuai arah kedatangan bunda sambil membuka-buka mulut kecilnya. Uuu nggemesin ^^

Hasil Pengamatan:

Apakah ini tanda bahwa matanya sudah bisa melihat bunda? Atau responnya ini bersumber dari ‘sensor tubuh’ seperti yang kita rasakan saat ada orang yang datang di dekat kita? Masih jadi misteri yang perlu diamati lagi, walau selanjutnya tidak saya tuliskan di sini 😀

See u on the next challenge, insya Allah ^^

#GayaBelajarAnak

#Level4

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

 

Observasi Gaya Belajar Anak #8

Observasi Gaya Belajar Anak #8

Nama Anak: Inten Ratna Sari

Tanggal: 2 Mei 2017

Gaya belajar Estha sudah diketahui, sementara adiknya masih menerima stimulasi saja sampai setahun ke depan. Jadi di episode ini kita bahas gaya belajar anaknya mama saya alias saya sendiri ya hehe.

Sejak lama, saya sudah mengambil kesimpulan bahwa saya adalah tipe pembelajar visual karena adanya ciri-ciri sebagai berikut:

* (Sangat) Suka membaca apapun, mulai dari novel sampai guntingan koran pembungkus ketan ^^. Tapi sejak jadi ibu, minat baca saya terfokus ke tema pendidikan anak dan sekitarnya (tema ini luas banget, sebenarnya)

*Selalu membaca instruksi penggunaan sebelum mengoperasikan barang baru

*Lebih cepat mengerti dan hafal suatu pengetahuan melalui bacaan. Termasuk segala pengetahuan tentang bayi dan anak, saya lebih percaya kata-kata artikel daripada nasihat sembarang orang. Tentunya selain nasihat mama dan mertua yaa.

*Senang memperhatikan wajah pengajar saat beliau menjelaskan materi. Saya ingat waktu SD pernah ditegur guru “kunaon Inten, olohok wae. Tong hokcay nya, olohok bari ngacai >,<” artinya? Cari sendiri yaa :p

Sekian lah pengamatan saya bagi diri sendiri. Simpulan ini sudah saya ambil sejak…tahu jenis-jenis gaya belajar ^^.

Nah, sang guru bergaya visual sementara muridnya bergaya auditori, gimana working stylenya? Tentunya yang audio visual ya. Alhamdulillah sekarang sudah banyak sarananya seperti read aloud alias membacakan buku, video edukasi, diskusi sambil melihat gambar/pemandangan langsung, dan lain-lain ^^

Observasi Gaya Belajar Anak #6

Observasi Gaya Belajar Anak #6

Nama Anak: Estha Ammar Abdurrahman

Tanggal: 28 April 2017

Aktivitas:

Bercerita pengalaman yang mengesankan

Visual: –

Auditori: saat bercerita, mata anak melirik ke kanan dan ke depan. Intonasi suara datar, kadang berirama. Ini merupakan salah satu ciri modalitas belajar auditori

Kinestetik: anak tidak menggerakkan anggota tubuh saat bercerita

Hasil Pengamatan:

Anak menunjukkan ciri modalitas belajar auditori

Simpulan awal:

Berdasarkan hasil observasi selama seminggu ini (dan sebelumnya juga), anak menunjukkan ciri-ciri berikut:

1. Mata melirik ke kanan dan ke depan saat bercerita sambil mengingat

2. Anak senang berbicara, mengoceh, bercerita, dan bernyanyi

3. Suka mendengarkan cerita baik dengan atau tanpa buku (walau ini mungkin karena anak belum bisa membaca sendiri)

4. Suka melihat-lihat buku. Kadang ‘membaca’ isi buku yang sudah dihapalnya dengan suara keras.

5. Berbicara dengan irama yang terpola

6. Dapat mengingat dengan baik kata-kata yang didengar dan hasil obrolan/diskusi dengan bunda

7. Sensitif terhadap nada suara bunda. Jika nadanya tinggi, dia langsung merasa dimarahi.

8. Sensitif juga terhadap ekspresi wajah bunda. Sering meminta bunda tersenyum sebagai afirmasi persetujuan bunda atas perilakunya

9. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada suara orang lain

10. Tidak bisa diam dalam waktu lama (selalu bergerak)

Berdasarkan ciri-ciri nomor 1-7 dan nomor 9, dapat ditarik simpulan awal bahwa Estha memiliki gaya belajar Auditori. Lalu, apakah ada campuran gaya belajar lainnya? Sejauh pengamatan ini ada, tetapi tidak menonjol. Masih perlu dikaji lagi untuk meyakinkan simpulan awal ini.

Referensi ciri gaya belajar:

http://www.kemahasiswaanstikesdhb.com/ciri-ciri-gaya-belajar-visual-auditori-dan-kinestetik/

http://www.nurulfitri.com/2016/05/9-ciri-pemilik-gaya-belajar-auditori.html?m=1

http://janghyunita.blogspot.co.id/2012/10/model-pembelajaran-visual-auditori.html?m=1

Materi Kuliah Bunda Sayang

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunSayIIP