Agar Kakak Tak Galak pada Adik

Agar Kakak Tak Galak pada Adik

Let’s Think Creative.

Masalah:

Kakak galak kepada adik bayi hanya setelah bundanya pulang kerja. Bagaimana solusinya?

Empati:

Kakak ingin mendapat perhatian bundanya.

Kakak tidak ingin perhatian padanya terbagi oleh adik bayi.

Berhubung kakak masih balita, egosentrisnya masih tinggi. Dan ini memang sesuai dengan fitrahnya. Tidak boleh diingkari. Hanya perlu disiasati.

Imajinasi:

Bagaimana kalau diberi hadiah dan dibacakan buku tentang menyayangi adik?

Bagaimana kalau Bunda bersikap ramah, santai menemaninya main, dan menerima rengekan/perasaan kakak, terutama di awal-awal jam kepulangan Bunda?

Solusi:

Dibacakan buku –> tidak terlihat efeknya

Bersikap ramah dan menerima perasaan –> Alhamdulillah mood kakak jadi jauh lebih baik dan berkurang galaknya terhadap adik bayi.

Nah, bagaimana agar sikap galak kakak menghilang sama sekali? itu masalah selanjutnya untuk dilingkar mekarkan yaa

#Tantangan10Hari

#Level9

#KuliahBunSayIIP

#ThinkCreative

 

 

Iklan
Membeli Mainan.. dari Tabungan Sendiri ^^

Membeli Mainan.. dari Tabungan Sendiri ^^

Sabtu, 16 September 2017

“Aku mau beli mainan!”

Nah nah, muncul lagi kalimat itu di rumah AIUE (singkatan dari nama-nama penghuni rumah,hehe).

“Oke, belinya dari tabungan Estha kan?” Bunda mengingatkan.

“Tapi aku mau yang mahal-mahal”

“Iya, tiga ribu kan mahal” kata Bunda. Tabungan nya memang sudah bertambah seribu dari kemarin.

Allah Maha Pemberi Rezeki, Ia gerakkan tangan Mama (neneknya Estha) untuk menambah tabungan Estha dengan 4 keping logam 500.

“Alhamdulillah,coba Estha hitung, ada berapa uangnya sekarang?”

“1..2..3..10 bunda!”

“Iya, artinya itu jumlahnya lima ribu” kata Bunda.

Kami pun bermotor ke Poris Indah, tempat toko yang menjual mainan mulai harga seribu perak eh seribu rupiah hehe. Di perjalanan, Bunda ingatkan Estha untuk berdoa

“Estha udah berdoa minta mainan ke Allah? Soalnya kalo kata Allah boleh, kita bisa dapet mainan. Tapi kalo kata Allah ga boleh, kita ga akan bisa dapet mainan. Bisa aja nanti uangnya kurang. Atau tokonya tutup. Atau lainnya. Pokonya semua tergantung Allah!” Bunda coba sampaikan dengan kalimat-kalimat singkat. Karena menurut teori, anak/laki-laki hanya bisa menyerap maksimal 15 kata dalam sekali dengar.

Sampai di toko, kami pun memilih-milih mainan yang berlabel ‘5000’. Qodarullah, yang dipilih Estha adalah balon seharga tiga ribu. Persis dengan tabungannya ^^. Bunda lalu ambilkan uang receh tiga eibu itu lalu menyerahkannya pada Estha. “Berikan ke tante ya” kata Bunda. Ia pun memberikan uang itu ke penjaga toko yang sudah standby di sebelah kami. Sengaja bunda minta Estha yang bayar agar ia merasakan sensasi ‘membeli dengan uang sendiri’ dan karenanya lebih menghargai mainan yang ia beli. Di rumah memang dia excited banget dengan balon ini sih. Minta ditiupkan lalu dilempar-lempar sendiri ^^

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Hari Kedua Menabung

Hari Kedua Menabung

Jumat, 15 September 2017

Bunda menyodorkan 2 keping uang logam 500 pada Estha, ia memasukkannya ke ‘celengan’ dengan senang. Plung plung. Plastik celengan yang semula digeletakkan di meja kini ia gantung di pintu dengan selotip! Hehe. Ada ada saja laku bocah 4 tahun ini.

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Tabungan Pertamaku

Tabungan Pertamaku

“Aku mau beli mainan! Yang mahal-mahal!”

Itu adalah seruan Estha sebulan terakhir ini. Hampir tiap hari ia minta beli mainan baru, tak peduli moodnya sedang cerah atau mendung! Pusiing kami dibuatnya. Tak dituruti, tantrumnyaa weleh weleh. Alhamdulillah kini Allah beri jalan keluarnya …

Kamis, 14 September 2017

Malam yang cerah. Entah darimana awalnya (tepatnya bunda lupa x_x) , obrolan bunda dan Estha mengarah ke tabungan.

“Aku suka menabung” kata bocah itu. Padahal dia belum pernah menabung!

“Oke, kalo gitu mulai malam inj,bunda tiap hari kasih Estha uang seribu,untuk ditabung. Gimana?” Bunda langsung nyamber.

“Iya! Aku mau!”

“Hemm nabungnya dimana y?”

Sang bocah melirik meja. Di atasnya ada surat undangan pernikahan dan plastik pembungkusnya. “Pakai ini saja!” Ujarnya sembari mengacungkan plastik kotak itu.

“Wah, apa ga gampang sobek tuh?”

‘engga dong, aku jaga supaya ga sobek!” Kata sang bocah keukeuh. Okelah, bunda memberinya 2 keping uang logam 500. Ia memasukkannya dengan berbinar-binar. Plung plung!

“Naah,,nanti kalau Estha mau beli mainan, belinya dari tabungan Estha,gimana?” Kata bunda

“Mmm iya deeh”

Yes! Si bocah setuju! Mudah-mudahan beneran terlaksana. Aamiin *doa khusyuk

#KuliahBunSayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Pola Pola Pola !

Pola Pola Pola !

Selasa, 1 Agustus 2017

Bunda penasaran, ingin melatih Estha bermain pola. Menurut Checklist perkembangan anak 3-4 tahun yang dirilis pemerintah, seharusnya ia sudah bisa menyusun pola sesuai ukuran, bentuk, dan warnanya. Tapi bagaimana caranya agar ia tertarik?

Saat ia bermain lego mini, bunda bilang ingin membuat ular warna kuning-hijau. Lalu bunda meminta tolong Estha mengambilkan lego kuning dan hijau. Ternyata ia sangat bersemangat mencari kedua warna tersebut di antara warna-warni lego-lego mungil tersebut. Lalu kami berganti peran: Estha yang menyusun, Bunda yang carikan legonya. Secara tidak langsung, Estha sedang berlatih menyusun pola warna A-B-A-B (walaupun baru empat lego saja ia sudah ingin berganti warna hehehe).

Lalu ia ingin menggambar. Bunda ikut menggambar kereta dengan banyaak gerbong. Ia melihat gambar Bunda dan bertanya heran

“Kenapa gerbongnya banyak banget Bunda?”

“Kita mau buat pola. Nanti Gerbongnya diwarnai membentuk pola. Estha ingin warna apa?”

“Emm..oren” Ia mengambil spidol oranye dan mewarnai gerbong pertama.

“Terus yang sebelahnya mau warna apa?” tanya Bunda

Ia mengambil spidol kuning dan mewarnai gerbong kedua.

“Naah karena mau buat pola, gerbong yang ketiga ini kita warnai oren lagi terus kuning terus …?” pancing bunda sambil menunjuk-nujuk gerbong

“oren! terus kuning, terus oren..” Alhamdulillah Estha sudah menangkap polanya. Cuss lanjut diwarnai semua gerbongnya ^^

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs⁠⁠⁠⁠

Puzzle

Puzzle

Senin, 31 Juli 2017

Estha main puzzle ikan 4 keping. Ini sangat mudah baginya -ia sudah pernah mengerjakan puzzle 9 keping-. Tetapi bukan itu tantangannya. Entah ide darimana, ia ingin menempel puzzle itu di dinding. Sibuk sekali ia mematut-matut puzzlenya. Sebentar di dinding sana, lalu pindah ke dinding sini. Setelah itu ia meminta selotip. Dibantu Bunda, ia memasang selotip di keempat sisi puzzle kayu tersebut. Apakah sudah selesai? Ou belum. Rupanya potongan-potongan puzzle kayunya berjatuhan satu per satu. Tentu saja jatuh, mereka kan tidak menempel di alas puzzlenya. Estha tak patah arang. ia memungut keping puzzle lalu memasangnya. Jatuh lagi. Pasang lagi. Jatuh lagi. Pasang lagi. Beegitu terus sampai ia agak kesal.

“Hem kira-kira bagaimana supaya ga jatuh lagi ya?” pancing Bunda

“Duuh palu nya mana sih?” gumam Estha.

Ou rupanya dia hendak memalu kepingan puzzle itu! Ia meminta Bunda carikan palunya. kami mencari sama-sama. Tapi palu sedang tak mau muncul. Ia melihat gagang pancing mainan.

“pakai ini saja!” katanya

Estha pun mulai memukul-mukul keping puzzle itu. Namun keping puzzle tetap jatuh.

“Huuh!!” Ia mulai stres!!

“Estha kesal ya?” Bunda coba menebak perasaannya. “Gimana kalau keping puzzlenya pakai selotip?”

Tapi ia tak ikut saran Bunda dan masih terus memukul-mukul keping puzzle. Sampai akhirnya capek dan beralih ke permainan lain hehe.

Tidak apa. Yang penting Estha sudah berproses berpikir dan berusaha memecahkan masalah.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs⁠⁠⁠⁠