Komunikasi Produktif #hari10

Komunikasi Produktif #hari10

*Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Komunikasi pada Anak: Jelas dalam Memberi Pujian dan Kritikan

Kemarin aku dan Estha berjalan-jalan sekitar rumah. Kami hendak mencari serangga.Mata tajam Estha segera menemukan sarang laba-laba yang tak berpenghuni, semut dan lalat. Seperti biasa, ia berkata “ayo difoto bun!”. Wah, pikirku, kami kan sudah mengoleksi beberapa foto semut dan lalat. Dua serangga ini memang paling jamak berada di sekitar kita. jadi aku lontarkan ide “gimana kalo kita gambar aja semutnya?” “Ayuk!” Estha langsung setuju.

Ternyata pada prakteknya, Estha lebih memilih menggambar kepik dan kupu-kupu. WOW momentnya, gambarnya sudah lebih berbentuk. Terutama kupu-kupu: sudah kelihatan mana sayap dan tubuhnya. Akupun memberi pujian “wah Estha gambarnya udah lebih jelas ya. Estha udah makin terampil menggambar!” Iapun nyengir nyengir senang. Lalu dengan semangat ia menawarkan diri menggambarkan belalang, sapi, singa, gajah, dan banyaak lagi πŸ˜€

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Iklan
Komunikasi Produktif #hari9

Komunikasi Produktif #hari9

**Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Ramah pada Anak

Pulang ke rumah kemarin, saya datang dengan tekad baru: bersikap ramah pada anak. Ini elemen penting dari prinsip komunikasi 7-38-55 , dimana pesan yang diterima adalah 7% jkata-kata, 38% intonasi, dan 55% bahasa tubuh. Selama ini saya sering berwajah datar di hadapan anak, dengan maksud menyembunyikan kekesalan hehe. Tetapi suatu saat saya melihat foto eksperimen reaksi bayi terhadap ekspresi ibunya. Saat ibunya tertawa, bayi tertawa. Saat ibunya berwajah datar, sang bayi berusaha menarik perhatian ibunya agar tertawa, dan saat ibunya masih berkespresi datar, sang bayi berupaya menolaknya dan menangis. Nah nah nah, bisa jadi kan ternyata ekspresi datar saya lah yang memicu bad mood anak.

Sesi bermain malam pun dimulai. Saya berupaya selalu tersenyum (jika ingat) dan mendegarkan celoteh anak dengan sungguh-sungguh. Senangnya, Estha berhasil mengarang cerita untuk pertama kalinya. kira-kira begini dialog kami:

E: Bunda, udah pernah denger cerita tentang Moo (sapi) sama tikus belum?

B: hmm kayanya belum. Emangnya ceritanya gimana?

E: Kan Moo sama ibu Moo lagi jalan di dapur, trus ada tikus lewat. Terus Moo nabrak tikus..

B: Trus?

E: udah

B: hehehe waah mudah-mudahan tikusnya ga luka ya ditabrak Moo

E: gapapa kan salah tikusnya ga lihat-lihat jalan

B: …

Alhamdulillah, keadaan damai pun terus berlangsung sampai Estha minta sendiri untuk tidur. Dibanding malam sebelumnya (dimana Estha banyak melawan ajakan untuk tidur dan pipis sebelum tidur) ini jelas kemajuan.

Nice sleep baby πŸ™‚

#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari7

Komunikasi Produktif #hari7

*Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Clear & Clarify

“mba, nanti selimut biru di kamar Estha tolong dicuci ya, sudah bau” ujarku saat bersiap-siap beragkat ke kantor di pagi hari.
“iya bun” kata sang mbak.
Sorenya.
Kulihat selimut biru itu masih teronggok manis di kamarku (yang juga kamarnya Estha).
Hemm.
“bun, yang dicuci itu maksudnya selimut atau karpet yang biru yaa?” tanya si mba dengan polosnya saat melihat ekspresiku.
“yang ini lho mba” kataku sambil menunjukkan selimut yang sudah terkena ompol itu. Hoalah. perasaan instruksiku tadi pagi sudah Clear deh. Jelas-jelas yang ada di kamar Estha itu selimut, kalo karpet disimpannya di kamar mba. But hey, i’m responsible to my communication result. jadi apa yang perlu diperbaiki? Ouya, aku belum Clarify. Bisa saja tadi pagi mbak sedang memikirikan segunung cucian yang harus dicuci, masakan yang akan diolah, atau bahkan pacarnya sudah berangkat kerja atau belum. jadi ga fokus mendengar permintaanku. Seharusnya aku minta dia menyebutkan ulang apa permintaanku untuk memastikan dia paham apa yang kumaksudkan.
Wew, mari belajar dari kesalahan.
#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari6

Komunikasi Produktif #hari6

*Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Eye Contact dan Belaian

Family Forum kemarin berlangsung mesra. Ahay. Hanya ada aku dan dia di sebuah meja. Meja yang tadinya mwnyangga makanan, kini menyangga rasa puas dan tenang dua insan. Diiiringi alunan hujan, aku mencoba mempraktekkan salah satu resep komunikasi produktif: intensity of eye contact. Suatu hal yang jarang bisa kami praktekkan di rumah karena biasanya obrolan kami disambi pekerjaan lain. Sambil bersandar tenang, kupandang matanya lamat-lamat. Ia balas memandangku sebentar, lalu pandangannya beralih. Ahay, malukah imamku ini? Pembicaraan mengalir dengan alami, ditingkahi senyum dan kehangatan. Ia bercerita dengan semangat, aku menanggapai dengan tenang. Luar biasa pengaruh eye contact ini. ^^

Baru saja kubaca artikel dari bu Ani Ch, seorang psikolog, tentang penyelarasan visi misi suami istri. Kuncinya adalah di komunikasi. Nah, salah satu tips komunikasi yang jarang dipraktekkan adalah: gunakan sentuhan. Menyentuh tangan, membelai punggung, mengusap kepala, segala bentuk sentuhan yang nyaman. Nah, tadi malam aku berkesempatan mempraktekkannya. Pada Estha.

Jadi ceritanya, saat kami-aku, suami, dan Estha- tidur malam, sekitar jam 3 Estha terbangun dan mengeluh gerah. Hal yang hampir mustahil karena suhu AC di kamar sudah 20 derajat Celcius! Aku sudah coba mengipasinya, tetapi ia malah semakin berteriak mengeluh gerah. Setelah diamati, ternyata celananya telah basah kuyup karena ompol dan bahasa tubuhnya sangat tidak nyaman dengan itu. Suami lalu menyuruh untuk mengganti celananya (walau diiringi protes) lalu mengalasi bagian kasur yang terkena ompol.Β  Teriakan kini berganti menjadi tangisan. Aku terpikir, mungkin saja selain rasa tidak nyaman, tangisannya ini juga kumpulan emosi yang terkumpul selama hari itu tidak bertemu dengan kami, orang tuanya. Maka akupun membelai pungungnya, dan berulang mengucapkan kata-kata bahwa kami sayang dan cinta padanya. Dengan izin Allah, tangisnya perlahan mereda dan ia kembali tidur dengan tenang. Alhamdulillah.

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari5

Komunikasi Produktif #hari5

**Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Siang hari Minggu, 29 Januari 2017 di Poris Gaga Tangerang,Β  Estha tidur sementara cuaca di luar gerimis kecil. Udara meniupkan kesejukan bagi seisi rumah, menyejukkan hati penghuninya.

Bunda berbincang dengan Mba, dari hati ke hati. Mba berusia 17,5 tahun, sudah Bunda anggap sebagai adik sendiri. Masih termasuk kategori remaja, sehingga perlu trik untuk berinteraksi dengannya. Senangnya, Mba ini tipe yang ekstrovert dan ceria, jadi mudah bagi Bunda untuk memulai dialog dengannya. Seringkali Mba yang memulai pembicaraan alias curhatnya. Seperti siang itu. Ia memulai dengan curhat tentang sahabat dan kekasihnya (-,-), lalu pembicaraan beralih ke kegiatan-kegiatan yang ingin dicobanya sesuai passion. Bunda banyak mendengar, menampung keinginannya, juga mencarikan akses pada kegiatan yang ingin dilakukannya. Bunda juga mendorong Mba untuk memimpikan masa depannya. Usaha apa yang ingin dilakukan saat sudah menikah dan harus stay di rumah. Mimpinya adalah membuka salon di rumah. Bunda akan coba memfasilitasinya dengan mendorongnya berlatih dan belajar salon di waktu luang. Agar ia tak melulu di depan gadget dan mudah-mudahan ia dapat menjadi pionir pemilik salon muslimah di desanya kelak πŸ™‚Β  Demikianlah perbaikan komunikasi yang coba Bunda praktekkan dengan remaja ini πŸ™‚

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari2

Komunikasi Produktif #hari2

**Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Di hari kedua ini Estha kembali tantrum. Dipicu oleh keinginananya untuk nonton YouTube melebihi waktu yang diberikan bunda, minum susu melebihi kuota, dan ingin tidur. Hupf. Tapi alhamdulillah tantrumnya tidak lama. beberapa menit kemudian dia anteng main lagi.

Tantangan lain dalam berkomunikasi dengan Estha adalah ketika mengajaknya BAK dan sikat gigi sebelum tidur. Bunda sudah coba memberikan pilihan, “sikat giginya mau sekarang atau 5 menit lagi?” dia pilih 5 menit, tapi setelah 5 menit dia tak mau beranjak dari tempat tidur dengan alasan apapun -,-

Hikmah yang diperoleh: dari sini Bunda menyadari perlu adanya kesepakatan sejak awal mengenai batasan-batasan serta standar kebiasaaan bagi Estha. Mungkin sudah satnya ada kesepakatan reward dan punishment sebagai bagian dari strategi komunikasi dengan balita ini.

#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif #hari1

Komunikasi Produktif #hari1

**Artikel ini ditulis untuk memenuhi tantangan 10 hari komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang IIP Tangerang-Tangsel

Family Forum di keluarga kami belum bernama. Sejatinya malah tidak seserius istilah ‘forum’ dimana kami mesti melingkar dan diskusi bersama. Berpegang pada prinsip pak Dodik: yang penting ngobrol dulu. Apapun jadi topik obrolan kami. Jam berkumpul kami-ayah,ibu,1 balita-adalah pukul 18.00-22.00 WIB.

Di hari pertama, kehidupan tidak berlangsung seperti biasa. Hoho. Estha mulai mengantuk dan emosinya jadi tidak stabil. Ia meminta susu namun Bunda tidak mengabulkannya karenaΒ  susu yang diminumnya hari ini sudah berada di ambang maksimal (batasnya adalah 4 kotak susu @125ml sehari). jadilah ia tantrum selama kurang lebih 1 jam sambil bolak-balik meminta susu pada ayah dan ibunya. Alhamdulillah tantangan komunikasi ini berhasil dilewati ayah-ibunya. Keberhasilan kami antara lain:

  1. menghadapi tantrum dengan kepala dingin dan memberi tahu Estha dengan kata-kata lembut bahwa ia bisa minum susu besok saat kuotanya sudah terbuka lagi. Jika haus minum air putih.
  2. bersabar menghadapi teriakan dan amukannya yang dahsyat, di malam hari ketika tetangga kanan-kiri mungkin mendengar.
  3. Kompak untuk tidak memberikan susu. Dalam hal ini bunda tak hentinya mengingatkan ayah untuk kompak dalam menegakkan aturan. memang harus saling mengingatkan kan πŸ™‚
  4. tetap menegaskan bahwa orang tuanya sayang pada Estha terutama saat ia mulai capek kemudian tertidur

Selanjutnya, saat anak sudah tertidur, waktunya bunda praktek komunikasi produktif dengan ayah sambil mengerok punggung ayah :). Perbaikan yang dilakukan malam ini:

  1. Membicarakan topik yang diketahui ayah dan bunda serta memancing ayah untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. Bunda sungguh banyak belajar πŸ™‚
  2. Memperbaiki intonasi suara bunda menjadi lebih bersahabat, bukan interview/interogasi. (Praktek konsep 7-38-55)
  3. Mendapat momen yang tepat untuk mengobrol.

Alhamdulillah hari #1 sudah dilewati dengan baik. Semoa hari #2 lebih baik lagi πŸ˜‰

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip